Opini  

Feminisme, Kapitalis Vs Kapitalis

Foto: Istimewa

Berbicara feminisme bahasanya sangat kompleks. Setiap tokoh feminisme fokus pembahasannya berbeda-beda disesuaikan dengan latar belakang pengalaman tokohnya. Baik dari pengalaman pribadi atau pun dari keadaan lingkungan tokoh tersebut.

Kemudian lahirlah beberapa pendekatan feminisme yang menjadi acuan gerakan feminisme di lapangan seperti feminisme liberal, feminisme sosialis, dan feminisme radikal. Namun semuanya masih dalam satu wadah memperjuangkan hak-hak perempuan sebagai mahluk yang sama di hadapan sang pencipta.

Lanjut dengan kalimat salah satu teman Sarah Puan itu yang berbunyi, “Percaya nggak bahwa feminisme itu merupakan produk kapitalis?” Begitu tukasnya lalu saya tercengang sambil mengerutkan kening, kemudian menoleh pada teman kelas di samping saya.

“Kapitalisme mencoba mempengaruhi pemikiran perempuan untuk merendahkan pekerjaan rumah tangga atau biasa disebut dapur, sumur, kasur. Itu untuk mempengaruhi perempuan agar mencari posisi di luar rumah, sehingga para kapitalis waktu itu dengan mudah merekrut perempuan bekerja di pabriknya kemudian mereka diupah dengan harga yang murah.”

Sampai di sana saya dan teman kelas menggut-manggut, “Padahal pekerjaan rumah itu sama bergharganya dengan pekerjaan di luar rumah. Hanya saja, perempuan ingin dimanfaatkan oleh para kapitalis-kapitalis itu, pekerjaan rumah perempuan dianggap rendah. Oleh karenanya, perempuan berusaha berkompetisi mendapatkan posisi yang sama dengan laki-laki terutama dalam hal gaji,” Lanjutnya menjelaskan dengan antusias.

BACA JUGA:  Independensi NU di Tengah Pusaran Konflik Kekuasaan

Berdasrkana statement dari teman forum tersebut, maka saya akan menjelaskan apa yang dikerjakan oleh perempuan sebelum ada revolusi industri. Sebab, adanya gerakan perempuan melawan dan gerakan perjuangan hak muncul setelah perempuan tertindas di dunia perindustrian. Jadi, tolak ukur pergerakan perempuan secara masif dimulai setelah adanya revolusi industri saat keberadaannya sungkan untuk diakui.

Pada abad pertengahan di wilayah Eropa lebih tepatnya di Jerman, Perempuan juga memiliki peran dalam lingkungan masyaraakat. Peran tersebut kemudian dijuluki 4K yakni kinder (anak-anak), Kirche (gereja), Kuche (dapur), dan Kleinder (pakaian). Dari empat istilah tersebut terlihat jelas bahwa stigma perempuan Jerman pada abad pertengahan tidak beda jauh dengan stigma perempuan di Indonesia yang masih sangat melekat di pikiran masyarakat: kasur, sumur, dan dapur.

Artinya, perempuan hanya boleh melakukan peranya di lingkup yang tertutup dan terhalang dari aktivitas yang berbau publik. Pada abad ke-18, perubahan posisi peran permpuan tidak terlalu signifikan. Perempuan hanya ada di tiga peran, yakni perempuan hanya bekerja di bidang cocok tanam, menjaga hewan ternak, dan menenun kain.

Diskriminasi perempuan pada abad 18 ini sama seperti di Arab Saudi sebelum ada perubahan strategi ekonomi oleh Muhammad bin Salman, yakni perempuan selalu nomor dua dari laki-laki dalam artian apa-apa yang berkaitan dengan kegiatan sosial, kepemilikan dan perjalanan perlu menunggu laki-laki terlebih dahulu baru kemudian perempuan boleh melakukan aktivitas. Artinya, perempuan tidak diberi kesempatan untuk membuat keputusan atas dirinya sendiri.

BACA JUGA:  Benarkah MUI Anak Emas Negara?

Pada awal permulaan abad ke 20, pergerakan perempuan di Jerman sudah semakin pesat. Beberapa tokoh perempuan menyuarakan hak perempuan untuk ikut andil dalam lingkup sosial. Peristiwa Vormaz dan revolusi Jerman tahun 1848 merupakan titik awal pergerakan perempuan hingga perempuan memiliki posisi yang sasuai dengan kemampuan mereka, dimulai dari maraknya pendidikan bagi perempuan.

Pergerakan perempuan di Jerman dibagi menjadi tiga periode. Periode pertama tahun 1848-1860. Pergerakan ini dipelopori oleh Louise Otto-Peters yang kemudian dijuluki “Ibu dari pergerakan wanita Jerman”. Periode Kedua adalah tahun 1865-1880, dari periode ini kemudian muncul dua aliran pergerakan perempuan yang disebabkan adanya gejolak politik, yakni feminisme sosialis, dan feminisme liberalis.

Periode Ketiga 1890-1914, pada periode ini masuk pada puncak pergerakan perempuan yang ditandai dengan peran perempuan semakin diakui hingga berhasil mendirikan partai politik. Pada periode tersebut, kongres perempuan Internasional diadakan pertama kali di Berlin pada tahun 1904.

Akan tetapi pergerakan perempuan di Jerman yang sudah mapan tersebut harus kandas setelah memasuki periode NAZI yang dikepalai oleh Adolf Hitler. Perempuan Jerman yang sudah memiliki tatanan yang kuat dan posisi yang layak, harus kembali mundur saat NAZI menguasai Jerman dengan mengembalikan stigma lama, bahwa dunia perempuan adalah dunia kecil dan dunia laki-laki lebih besar dan luas.

Tinggalkan Balasan