DPP Garda BMI (Buruh Migran Indonesia) Laksanakan Rapat Kerja dan Halal Bihalal

Jakarta – DPP Garda BMI (Buruh Migran Indonesia) yang merupakan Banom Partai PKB melaksanakan Rapat Kerja Pengurus yang dibungkus dengan rutinitas tahunan di bulan syawal yaitu Halal bi halal (02/06/ 21).

Acara yang dibuka oleh M. Hasanuddin Wahid, salah satu pendiri Garda BMI tersebut dihelat di Auditorium KH.Abdurrohman Wahid di kantor DPP PKB Jakarta Pusat.

M. Hasanuddin Wahid berpesan pada seluruh kader Garda BMI agar kehadiran Garda tidak hanya sebatas berorganisasi formalitas, tapi harus lebih dari orientasi awal berdirinya, yaitu proaktif terhadap kondisi bangsa terkini.

Salah satu Pekerjaan Rumah Garda BMI yang harus terus menerus disambut ialah mendampingi pekerja migran, M. Hasanuddin menilai, mereka harus menjadi prioritas gerakan advokasi Garda BMI, karena faktanya mereka selalu jadi korban sistem.

“Pekerja migran di seluruh dunia termasuk kelompok mustad’afin karena terlemahkan secara sistem”, menurut Hasanuddin

Self Service dalam isndustri merupakan bagian dari penyingkiran keterlibatan manusia dalam pekerjaan, itu dapat mengancam posisi mereka.

Self Service dalam industri merupakan bagian dari mengalienasi keterlibatan manusia dalam pekerjaan. Kalau ini terus terjadi, maka tenaga kerja akan terancam posisinya, karena berkaitan dengan terminimalisir ruang kerja mereka”, imbuhnya.

BACA JUGA:  Akhir Tahun Momentum Evaluasi Kinerja dan Efektivitas Pengawasan

Selain itu, Hasanuddin berpesan agar agenda-agenda kongkrit gerakan Garda BMI harus selalu melihat pada orientasi berdirinya Garda BMI, salahsatunya advokasi

Advokasi menjadi bagian terpenting dari visi gerakan, Memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, Memberikan rasa aman dan tidak hanya sekedar perjuangan kelas, tapi secara ekonomi mereka juga harus lebih baik.

“Advokasi kepada pekerja migran, tidak hanya sekedar perjuangan kelas tapi secara ekonomi harus menjadi lebih baik”, lanjut Hasanuddin.

Berdirinya Garda BMI karena prihatin dengan sistem dunia yang bertransformasi menjadi sistem digital, revolusi ketiga (digitalisasi) yang telah kita alami sekarang ini

Kita harus mengingatkan kepada pemilik industri bahwa digitalisasi adalah buatan manusia, yang fungsinya harus diluruskan bukan untuk memarginalisasi peran manusia tapi harus lebih memulyakan dan mengoptimalisasi peran manusia agar manusia terjamin kesejahteraannya.

Kemudian Hasanuddin menutup sambutannya dengan pesan, “Inna ma’al usri yusro, setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan, hal Ini menjadi pengingat bagi seluruh Kader Garda BMI dalam perjuangannya, sekaligus pesan untuk pekerja migran bahwa mereka harus tetap bersemangat agar segera keluar dari jebakan status buruh ini menjadi orang yang lebih mandiri yang bisa menghonori dirinya sendiri bahkan menghonori orang lain.”

BACA JUGA:  Politisi Demokrat Pertanyakan Usul Penundaan Pemilu 2024

Tinggalkan Balasan