Hebitren: Ikhtiar untuk Memberdayakan Ekonomi Umat

Pelantikan pengurus Koordinator Wilayah (Korwil) Hebitren (Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren) dilaksanakan di Aula Pondok Pesantren Nurul Jadid pada 4 Mei 2021

Probolinggo– Pelantikan pengurus Koordinator Wilayah (Korwil) Hebitren (Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren) dilaksanakan di Aula Pondok Pesantren Nurul Jadid pada 4 Mei 2021. Sebagai tuan rumah, KH Abdul Hamid Wahid, yang juga bendahara umum, menyatakan bahwa Hebitren merupakan ikhtiar untuk memberdayakan ekonomi umat.

Sebagai program awal, Hebitren mendorong pasar tertutup digital (e-commerce) di antara pondok pesantren. Selain itu, ada tiga pesantren, yaitu Tebuireng, Sunan Drajat, dan Nurul Jadid mendirikan Distribution Centre, untuk menjadi kanal dari penyimpanan dan distribusi barang, dan turut mengembangkan pariwisata. 

Dalam kesempatan ini, setelah melantik pengurus Korwil Jawa Timur, KH Hasib Wahab Hasbullah menyampaikan sambutan. Dalam arahannya, putera salah salah pendiri NU itu menyatakan, “Hebitren adalah kumpulan pondok pesantren seluruh Indonesia. Ia tidak terikat dengan organisasi keagamaan, tetapi pada ikhtiar untuk mengembangkan ekonomi keumatan, sehingga melibatkan pondok-pondok yang beraneka ragam seperti Muhammadiyah, Hidayatullah, dan Nahdliyyah.” 

Kiai Hasib menambahkan bahwa ia yakin dengan Hebitren Jawa Timur karena digawangi oleh para kiai muda (baca: gus) yang energik. Kalau selama ini, usaha pesantren diidentikkan dengan usaha kecil dan menengah (UKM), kini tidak lagi. Mengingat jumlah pesantren sekitar 30.500, kerja sama strategis untuk memajukan dunia usaha akan mendorong lahirnya perusahan besar. 

BACA JUGA:  Prospek Ekonomi dan Inflasi Jatim Tahun 2022

Malah, Guntur Mahardika, asisten staf khusus wakil presiden, dalam sambutan selanjutnya mendorong konglomerasi usaha pondok dengan menciptakan “holding company”. Namun demikian, sejalan UU 18/2019, pondok pesantren berfungsi sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan, kegiatan bisnis pondok tidak bisa dilepaskan dari cita-cita untuk memberdayakan umat melalui kemandirian dalam bidang ekonomi.

Dalam sambutan penutup, Muhammad Anwar Bashori, sebagai kepala divisi syariah Bank Indonesia, sekali lagi menegaskan bahwa konglomerat bisa lahir dari dunia pesantren, yang berdasarkan nilai-nilai keadilan, keumatan, kerjasama UKM, daya juang tinggi. Hal serupa disampaikan oleh Ahmad Divi Johansyah, bahwa sesuai dengan tema Peresmian Pilot Project Model Bisnis Ekosistem Halal Value Chain Berbasis Pesantren, kata kunci dari kerja sama niaga itu didasarkan pada ekosistem, yakni satu kesatuan antara pelbagai pemangku kepentingan, warga, dan pengetahuan.

Tinggalkan Balasan