Bangkalan – Pengucapan kalimat salam merupakan sunnah para nabi dan rasul dan perilaku sehari-hari para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Salam ini termasuk kalimat yang baik yang dicintai Allah S.W.T., serta membuat jiwa menjadi baik dan mendatangkan rasa cinta.
Menurut Abu Izat Ramadhan hukum mengucapkan salam adalah sunnah yang dikuatkan (sunnah mu‘akadah), sedangkan menjawab salam adalah wajib hukumnya.
Pengucapan salam merupakan sunnah yang dikuatkan sesuai dengan hadits Nabi Muhammad s.a.w. Dalam sebuah hadits, Rasulullah s.a.w., bersabda: “Jika seseorang di antara kalian berjumpa dengan saudaranya, maka hendaklah memberi salam kepadanya. Jika antara dia dan saudaranya terhalang pepohonan, dinding atau bebatuan; kemudian mereka berjumpa kembali, maka ucapkan salam kepadanya.” (H.R. Abu Daud).
Sedangkan menjawab salam hukumnya wajib sesuai dengan ketentuan yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah S.W.T., berfirman: “Apabila kamu dihormati dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatunya.” (Q.S. An-Nisa’: 86).
Pengucapan salam tersebut sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Sesuai dengan petunjuk Rasulullah s.a.w., ketika beliau tengah bersama isterinya, ‘Aisyah RA, beliau bersabda: “Ini Jibril mengucapkan salam kepada kamu”. Maka ‘Aisyah RA menjawab: “Wa ‘alaihissalaam warahmatullaahi wabarakaatuh.” (HR. Bukhary dan Muslim).
