Kiai Hamid Dorong Percepatan Ekonomi Umat dengan Basis Ekonomi Syariah

Foto: KH. Abdul Hamid Wahid dalam acara Silaturahmi dan Sarasehan Kemandirian Pesantren dan Penguatan Ekonomi.

Surabaya – “Berdasar riset PricewaterhouseCoopers (PwC), tata dunia akan berubah. China akan jadi kekuatan dunia pada 2050, menggeser Amerika. Indonesia berada di nomor 4. Dengan dukungan kekayaan alam, seperti bahan baterai ada di Sulawesi, termasuk plutonium sebagai bahan baku nuklir.Indonesia Emas itu akan menjadi kenyataan,” begitulah kata Kiai Abdul Hamid Wahid, rektor Universitas Nurul Jadid,  saat menyampaikan materi dalam acara Silaturahmi dan Sarasehan Barisan Gus dan Santri di Surabaya, (Sabtu, 10/4/21).

Rektor Universitas Nurul Jadid itu mengupas seputar isu kemandirian pesantren dan penguatan ekonomi berbasis syariah di hadapan peserta organisasi yang berlatar pesantren tersebut.

“Tetapi, peran umat Islam di mana? Santri di mana?,” tanyanya disambut riuh tepuk tangan para peserta yang memenuhi ruangan pertemuan di ballroom Hotel Pesonna, Surabaya.

Kiai Hamid Juga mengutip Hadits, bahwa akan datang suatu zaman, sesuatu itu tegak dengan dinar. Kiai itu menegaskan bahwa penguatan ekonomi merupakan suatu yang niscaya.

“Tidak hanya itu, kesadaran ini perlu memantik perubahan pola pikir dalam rangka mewaspadai era disrupsi Revolusi Industri 4.0 agar para gus dan santri bisa mereposisi semangat beragama secara utuh”. 

BACA JUGA:  Solar Langka dan Mahal, Nelayan di Kepulauan Sapeken tak Melaut Meregang Nyawa

Hal yang lebih penting menurutnya, strategi jitu harus dihadirkan, yaitu arus ekonomi baru berupa ekonomi syariah, mesti dikembangkan sejalan dengan program yang dicanangkan Kiai Ma’ruf Amin, Wakil Presiden, untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat keuangan dan pariwisata syariah dunia.

“Yang lebih penting, strategi yang jitu harus hadir, arus ekonomi baru berupa ekonomi syariah, ini harus dikembangkan sejalan dengan program yang dicanangkan Kiai Ma’ruf Amin, Wakil Presiden, supaya Indonesia menjadi kiblat keuangan”.

Lebih jauh lagi pandangannya soal ekonomi umat, industri Kecil Menengah dan UMKM harus  memasuki pasar melalui perencanaan logistik dan rangkaian yang mantap. Sebagai langkah konkret. Usaha ini juga dibarengi dengan memanfaatkan teknologi fintech dan lokapasar (marketplace).

“Usaha-usaha tersebut harus juga memanfaatkan marketplace supaya lebih konkret,” tambahnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh pondok, Ormas Islam, dan NU melalui pelbagai institusi, seperti Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren), Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN), Komisi Pengembangan Ekonomi Umat MUI, harus diselaraskan untuk mempercepat penguatan ekonomi keumatan yang inklusif.

BACA JUGA:  Awal Tahun 2022 Penerimaan Pajak Tumbuh Signifikan

Tinggalkan Balasan