Kuliah untuk Kerja, Begitukah?

Ilustrasi

Suatu ketika, saat saya sedang berbincang santai dengan teman-teman santri, salah seorang dari mereka terheran-heran ketika saya menceritakan bahwa pemuda di desaku yang terjun ke dunia pendidikan hanya bisa dihitung jari, rata-rata hanya berhenti di jenjang MA atau SMA, padahal desaku menurut mereka dekat dengan jalan raya. 

Kenapa stuck di Aliyah, kok tidak lanjut ke jenjang yang lebih tinggi? Untuk menjawab pertanyaan itu saya pikir tidak mudah. Ya, ada saja orang bertanya, “kamu akan jadi apa kalau kamu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?”.  Pertanyaan “kamu akan menjadi apa?” adalah sebuah pertanyaan tentang capaian dan hasil setelah lulus kuliah. Pertanyaan ini tidak berangkat dari ruang kosong melainkan melihat realita sebenarnya, mengingat memang banyak pengangguran setelah kuliah. Namun pertanyaan selanjutnya, mengapa pertanyaan ini muncul? Apa memang benar sekolah tinggi-tinggi hanya untuk bekerja?

Sebagian besar masyarakat kita masih memiliki kesalah-pahaman dalam mengaitkan antara capaian pendidikan dengan duniawi/materi setelah menyelesaikan jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Pertanyaan di atas merupakan kesalahan paradigma yang terkadang akan membuat kita down ketika pertanyaan itu memberondong diri kita masing-masing, apalagi menjadi gunjingan oleh tetangga, alamak!

BACA JUGA:  Menghadapi Pemilu 2024, DPD PAN Bangkalan Genjot Kader dengan Bimtek Pendidikan Politik

Begini, memang dunia kerja saat ini rata-rata mensyaratkan tingkat pendidikan tertentu tetapi tidak semua pekerjaan memerlukan ijazah, bukan? Pemikiran seperti di atas bila dibiarkan akan sangat fatal bagi generasi umat dan bangsa karena seakan-akan orientasi pendidikan hanyalah untuk bekerja dan memiliki jabatan tertentu dan di sisi lain lupa dengan kualitas diri yang harus diisi dengan pengetahuan dan pengalaman.

Sayyidina Ali pernah bernasihat, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya”. Ini menunjukan bahwa belajar dan mencari ilmu adalah tuntutan zaman supaya dalam mengarungi kerasnya kehidupan manusia mempunyai ilmunya, tidak dihadapi dengan serampangan, apapun itu masalahnya. Hal itu juga sesuai dengan sabda Nabi Saw, bahwa barangsiapa yang menghendaki kebaikan di dunia maka harus dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kebaikan di akhirat maka dengan ilmu, sedangkan bagi yang menghendaki keduanya maka dengan ilmu juga.

Pengalaman Itu Penting

Melihat dua nasihat di atas, dalam mencari ilmu terdapat dua versi, pertama untuk tujuan akhirat, kedua ada ilmu yang memang khusus untuk mengejar materi/duniawi. Namun menurut saya sendiri, sekolah tinggi tidak harus menjadi apa setelahnya, tetapi apa yang akan didapatkan dari proses menempuh pendidikan itu jauh lebih berharga daripada sekedar menjadi apa atau mendapatkan pekerjaan apa. Sebab pendidikan merupakan suatu proses pengalaman. Karena kehidupan merupakan proses pertumbuhan hingga akhir hayat, maka peran pendidikan adalah membantu pertumbuhan batin manusia tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan adalah proses penyesuaian pada setiap fase dan akan terus menambah kecakapan manusia, dan itu tidak akan dapat dicapai kecuali melalui pendidikan (Jhon Dewey, 1952).

BACA JUGA:  SMK Muhammadiyah 3 Aek Kanopan Bergandengan dengan POLMED

Pekerjaan Itu Bonus

Selain mendapat pengalaman yang berlimpah, dunia pendidikan tidak hanya tentang bangku dan teori, akan tetapi koneksi dan jaringan dalam pertemanan juga secara otomatis akan didapat. Sehingga hal ini menjadikan seorang yang sudah lulus kuliah mengetahui banyak hal dan mempunyai multi tasking yang tinggi yang akan mempermudahnya dalam memperoleh pekerjaan, bahkan bisa jadi ia akan diminta untuk mengisi sektor-sektor penting sesuai dengan keahliannya, mungkin ini salah satu yang dimaksud dengan walladziina utul ‘ilma darojaat. wallahu a’lam!

Tinggalkan Balasan