Puisi  

Madu Kami di Pulau Sunyi

Illustration by Madurapers

Gentar Layar Pudar

Senja, sudah sampailah sumpah dan serapah
di daratan madu  keajaiban
Raden Sagara meloncat mewarnai tanah
dan berlari-lari seperti janji

Aduh putraku umurmu berkali padi empat kali
janganlah sarang lebah kau serapahi
dengan pedang di matamu
dengan merpati maupun layar yang pudar

di tanah lapang ini, ibu akan menanam piranti
mereka menanti menikmati madu-madu suci

Kita telah bertangan layangan dan senyummu madu
Teriakmu “maddu e ra-ra, maddu e ra-ra “

Raden Segara di matamu ada rasa, dan raksasa berhati mulia
madukan masa-masa si depan sana dengan lautan berair surge
di tatar tanah datar ini, mari kita berjanji kembali
bahwa masa dan raja selalu ada di dada
mengganti mimpi menjadi sungai madu semesta

Sampang, 2021

 

Madu Kami di Pulau Sunyi
Oleh Ahmad Wahyudin

Telah kita sentuhkan tatapan para pemberani
di pagi bermadu, ini lah madu rajam legam semngatku

“dengan sadar kami berlayar menuju mata ikan-ikan di lautan
Kapal kami bertali kasih bapa dan lengan-lengan hujan, awan,
serta matahari”

BACA JUGA:  Puisi-Puisi Lie

Pulau dan galau tidak akan pernah jadi galat
hanya segurat serat air lautan
yang selalu jadi tarian di ingatan
anak-anak kami berdiri di pantai
kami pergi membawa panji-panji madu
bersarung selendang ibu: mata kami menjadi bunga di angin ujung kapal

Bangkalan, 2021

Raden Ayu Tunjung Sekar
Karya Joko Susilo dan Ahmad Wahyudin

Betismu adalah cahaya bulan di lautan
manis madu di matamu memandang seberang pulau
dengan selendang dan daun
angin pun menjadi perahu berlayar mawar

di matamu mengalir mahir mantra-mantra samudra
sebait celurit dan bulan sabit kami tunggui sepanjang pagi
sampai masa berubah warna,
membuat tangga-tangga,
menatah sumpah pada dinding angin
angin yang tidak pernah dingin seperti dayung
yang murung, menunggui buih dan biji-biji
senyum dari melati di ujung hidungmu

sementara syair-syair masa silam
kamin yakini menjadi baja yangtidak akan oernah tenggelam
pada terik dan suara jangkrik pyang masih kami dengar
dari gungung di seberang lautan
kembang dan kelabang menjadi selendang
berdendang pada pada pedang
bernada tidurnya sang bayi di pangkuan ibunya.

BACA JUGA:  Puisi-Puisi Moh Samsul Arifin

Sidoarjo, 2021

Tinggalkan Balasan