Budaya  

Mengungkap Asal-usul Sejarah Sate Madura

Penulis: Mohammad Fauzi, Dewan Penasehat Lembaga studi Perubahan dan Demokrasi (LsPD)

Sate Madura merupakan salah satu makanan lezat yang berasal dari suku bangsa (etnis) Madura. Makanan ini umumnya berbahan daging ayam, kambing, dan sapi. Bumbunya ada dua jenis, yaitu bumbu kacang dan kecap.

Di era modern sate Madura menjadi makanan favorit di dunia. Menurut hasil survei makanan terenak di dunia CNNGo tahun 2017, sate berada di peringkat ke-14 setelah chicken rise dari Singapura (CNNGo, 2017).

Kuliner Madura ini tidak hanya dijajakan dengan gerobak sate keliling tetapi juga menjadi menu utama di berbagai restoran besar di Indonesia. Bahkan sate ini menjadi menu utama di restoran negara maju, seperti Satay Junction, Restaurant Asia – West Village, New York USA (Foursquare, 2021).

Dari sudut pandang (perspektif) sejarahnya terdapat beragam pendapat tentang asal-usul sate Madura. Meminjam perspektif kebudayaan C. Kluckhohn (1953) pendapat tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga perspektif. Ketiga perspektif tersebut adalah: (1) bahasa, (2) teknologi, dan (3) pengetahuan.

Dari perspektif bahasa, sama seperti sate-sate lain di nusantara, ada dua pendapat tentang sejarah asal-usul sate Madura. Pendapat pertama, menjelaskan bahwa secara etimologi (asal-usul kata) kata sate berasal dari bahasa Tamil, dari kata satai yang artinya sate (Wikipedia, 2021). Satai secara terminologi (peristilahan) menurut Vivienne Kruger (2014) adalah potongan daging yang diasinkan kemudian dipanggang dengan lidi atau tusuk kayu dan dicelupkan ke saus sebelum dimakan.

BACA JUGA:  Budaya Paling Unik di Dunia

Pendapat kedua, menjelaskan bahwa kata sate berasal dari bahasa Hokkian (China) dari kata sa dan tae (Wikipedia, 2021). Menurut William Wongso (2016) secara etimologi kata sa artinya tiga dan kata te (tae) artinya biji. Secara terminologi dalam bahasa Hokkian sate adalah dalam satu tusuk ada tiga biji. Jadi, dalam bahasa Mandarin/China sate memiliki arti daging tusuk.

Dari perspektif teknologi memasaknya, sate dimasak dengan cara dipanggang/dibakar. Vivienne Kruger menyebutkan bahwa teknologi memasak daging seperti ini berasal dari Tamil. Teknologinya terinspirasi dari cara mengolah daging kebab di Turki dan Arab. Teknologi memasak daging ini diperkenalkan oleh saudagar muslim Tamil dan Gujarat ke penduduk Asia Tenggara.

Menurut Mary Ellen Snodgrass (2013) kebab berasal dari Persia. Kuliner ini diperkirakan ada di sebagian wilayah tersebut sebelum masehi dan kemudian menyebar ke seluruh Persia dan Timur Tengah pada abad ke-8, menyebar ke India pada abad ke-15, dan Turki mempopulerkan ke seluruh dunia pada abad ke-16.

Respon (2)

  1. Wah, mantap. Ini menjadi referensi penting bagi madurolog dan pecinta sejarah kuliner.
    Ini bisa dijadikan kajian serius dan sbg destinasi wisata unggulan bagi dinas pariwisata Jatim. Coba Fauzi komunikasi dg Sekpri Disbudpar Jatim Bu musrifah. Dulu sy sering kontak dia terkait pembentukan prodi baru “Pariwisata Islam” di Fak. Adab.

Tinggalkan Balasan