Cerpen  

Omega

Foto: Dokumentasi pribadi

Aku menginjak pedal gas lebih dalam. Di depanku terhampar jalanan sepi dan remang. Mobil melaju dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Lampu jalan warna jingga berjajar setiap sepuluh meter di tepi jalan, tidak ada rumah di kiri-kanan.

Jam digital pada layar monitor mobil menunjukkan pukul 00:12, aku kembali menambah kecepatan sampai 70 kilometer per jam. Ayam dan ibu-ibu gegabah tidak menjadi kekhawatiranku kali ini. Mereka semua sedang tertidur pulas di kandangnya masing-masing, sehingga tidak mungkin menyeberang jalan secara mendadak. Tidak akan ada mahluk hidup yang memaksaku untuk menginjak rem secara mendadak, sembari terus menjaga kemudi agar mobil tidak terguling. Sama sekali tidak akan ada yang menghalangiku kali ini. Mobilku terus melaju, menyisakan gema di kesunyian malam yang utuh.

Aku meraih sale pisang yang tergeletak di kursi sebelahku. Kunikmati renyah dan alot sale pisang, sambil terus memutar kemudi mengikuti jalanan yang mulai berkelok. Selain berkelok, jalanan juga mulai menanjak dan menurun liar. Namun baik memutar kemudi dan mengunyah sale pisang, keduanya masih bisa aku kuasai dengan baik. Sale pisang ini jadi hadiah perpisahan dari ibuku sebelum berpisah dua hari yang lalu. Aku langsung mampir ke rumah ibu ketika sampai di Surakarta.

Kedatanganku ke Surakarta memang hanya untuk menjenguk ibu, memastikan dirinya baik-baik saja. Setelah memastikan kakakku merawat ibu dengan baik, aku pamit. Meskipun berkali-kali ibu memaksa menginap, aku beranjak dari ruang tamu usai magrib. Sebelum masuk ke mobil, ibu menyodorkan dua bungkus sale pisang sambil berpesan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini termasuk juga sebuah perjalanan. Tanpa bertanya tentang arti dari perkataannya, aku langsung tancap gas meninggalkan Surakarta.

Baliho dengan gambar iklan keluarga berencana yang kulihat di tepi jalan, melemparku kembali pada kenangan masa lalu. Dapat kuingat dengan jelas ketika aku, kakakku dan ibuku, berdiri di depan peti dengan ayah yang telah tertidur abadi di dalamnya. Kakakku menangis di pelukan ibu, sedangkan aku hanya diam menatap ayah sambil mengingat pesannya. Di dunia ini banyak sekali orang aneh, dan keluar dari rumah adalah salah satu cara untuk menemukannya, demikian kata ayah padaku. Dan pesan itu tumbuh subur di kehidupanku.

Selepas kuliah, aku memutuskan untuk berkelana dengan mobil sedan hitam peninggalan ayah. Pamitku memang hanya pergi selama dua hari untuk mengurus yudisium. Namun kepulanganku baru terjadi dua tahun setelahnya. Tepatnya ketika keluarga kami pindah ke Surakarta karena kakakku diterima menjadi pegawai negeri di sana. Aku mengembara karena menghidupi pesan mendiang ayah, dan besarnya egoku mengembara membuat kakak mulai membenciku. Ia selalu memintaku untuk sadar bahwa kehidupan seorang pegawai negeri terjamin sampai hari tua. Sebenarnya aku sudah lama menyadarinya. Hanya saja kakakku mungkin yang belum sadar, bahwa tidak semua orang punya kemampuan untuk menjadi pegawai negeri.

Aku menurunkan kecepatan mobilku setelah melewati tanda selamat datang di sebuah kota yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Deretan bangunan membentang di kiri dan kanan. Mobilku melaju 30 kilometer per jam. Kuamati lekat-lekat bangunan yang tidak terlalu tinggi dan tampak terbengkalai. Tempat fotokopi dengan lampu yang berkedip, studio foto dengan gelandangan yang tidur di serambinya, telepon umum dengan gagang telepon yang tergantung ke bawah, tembok yang dihiasi tulisan makian dan tulisan alat kelamin, dan supermarket 24 jam yang tampak di depan sana. Karena persediaan makanan dan minuman sudah habis, aku memutuskan menepi pada supermarket itu

Kulihat seorang lelaki dan perempuan dengan seragam pegawai supermarket sedang bersetubuh di balik mesin kasir. Mereka buru-buru mengenakan celana ketika aku masuk ke dalam supermarket. Aku pura-pura tidak melihat dan langsung berjalan menuju rak makanan. Kuambil beragam roti, keripik kentang dan biskuit. Setelah itu, aku melangkah menuju kulkas minuman, mengambil selusin kopi, susu, dan minuman bersoda.

Sesampainya di kasir, pegawai supermarket yang tadi bersetubuh, menghitung barang belanjaanku sambil terus menundukkan kepala. Setelah total belanjaanku muncul, mereka mengatakan aku tidak perlu membayarnya. Mereka berdua yang akan membayar dan sebagai gantinya, mereka memintaku untuk tutup mulut. Aku mengangguk dan keluar dari supermarket. Sambil melangkah menuju mobil, aku terus bertanya dengan diriku sendiri.

Bagaimana juga caranya aku melaporkan persetubuhan mereka? Dan mengapa pula aku harus melaporkan orang yang sedang bersetubuh? Asmara seseorang termasuk persetubuhannya sama sekali bukan urusanku.

Meskipun supermarket berada di tepi jalan protokol, tidak ada satu kendaraan yang melintas. Tidak ada motor dengan suara knalpot yang bising. Tidak ada truk dengan suara musik dangdut yang nyaring. Seolah malam dengan sengaja memberikan kesempatan kepada kota ini untuk bernapas tanpa riuh manusia yang berpijak di atasnya.

Aku memutar lagu A Thousand Miles dari Vanessa Carlton, lagu yang sering diputar oleh almarhum ayah ketika sedang menyetir. Ia tidak pernah mengganti lagunya, meskipun kakak atau ibuku bersikeras meminta untuk mengganti dengan lagu Maroon 5 kesukaan kakak, atau lagu-lagu Vina Panduwinata kesukaan ibu. Aku tersenyum saat memoar menyodorkan kembali peristiwa itu di ingatanku. Kurebahkan tubuhku pada bangku mobil. Kuletakkan kakiku pada stir mobil, sama seperti yang dilakukan almarhum ayah ketika menungguku pulang sekolah saat masih SD.

Setelah kuingat kembali, perkataan ayah benar adanya. Selalu ada orang aneh di luar rumah. Aku mengingat kembali orang-orang aneh selalu ada di tempat aku berhenti. Tempo hari di sebuah supermarket 24 jam yang lain, aku bertemu dengan seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun. Tebakanku soal usianya hanya berdasarkan uban yang ada di rambutnya. Perempuan itu berdiri di depan rak mie instan. Ia sempat bertanya padaku, mana yang lebih enak antara mie goreng atau mie rebus. Sesampainya di kasir, seorang petugas supermarket bercerita kepadaku bahwa perempuan yang baru saja aku temui sudah ada di dalam supermarket itu selama lima tahun.

Berdasarkan cerita, perempuan itu datang di suatu malam dan mulai mengelilingi deretan rak yang ada di supermarket, sambil terus memilih belanjaannya. Menimbang antara mie goreng atau mie rebus, kecap atau sambal, minyak goreng atau mentega, cokelat batang atau cokelat bubuk, susu atau keju, dan banyak pertimbangan lainnya. Lima tahun lamanya ia memilih barang belanjaan tanpa pernah sekalipun datang ke kasir untuk menyerahkan barang belanjaannya. Perempuan itu memilih barang belanjaan tanpa pernah tidur, makan, minum atau mengeluh kelelahan. Seolah hidup hanya perihal memilih barang belanjaan di supermarket. Tapi aku tidak lantas membantu perempuan itu memilih belanjaannya. Setelah membayar belanjaanku sendiri, aku beranjak dari supermarket dan memacu sedan hitamku meninggalkan kota.

Aku juga pernah menemui keanehan lain ketika berhenti di sebuah kota yang mengapung di atas air. Kota ini adalah satu-satunya kota di dunia yang dibangun di atas sebuah kapal. Tidak ada seorang pun yang bisa berdiri tegak di kota itu karena pijakannya senantiasa terombang-ambing. Dan orang aneh yang kulihat di kota itu datang seorang anak kecil, berkeliling kota sambil duduk bersila di atas punggung seorang laki-laki yang berjalan merangkak. Tubuh laki-laki itu telanjang bulat dan sebuah rantai berkarat membelit lehernya.

Setiap kali anak kecil itu lewat, beberapa orang akan berlutut. Dari bisik-bisik warga, aku mengetahui bahwa laki-laki yang berjalan merangkak itu adalah ayah dari anak kecil yang duduk bersila di atasnya. Orang-orang yang berlutut adalah mereka yang percaya bahwa anak kecil itu adalah reinkarnasi dari dewa laut. Lagi dan lagi, aku tidak ikut campur terhadap dewa kecil atau identitas dari laki-laki itu. Kutinggalkan kota yang terapung itu, setelah aku menghabiskan sebotol ciu yang dibuat dari rendaman air jeruk bercampur bayi rusa.

Aku membuka mataku. Ingatan-ingatan akan perjalanan yang telah kulalui sebelumnya, membawaku dalam tidur yang singkat. Kuambil tisu basah di dalam dasbor untuk mengusap wajahku yang berminyak. Usai mesin mobil menyala dan rem tangan kuturunkan, aku beranjak keluar dari parkiran supermarket. Tak sabar rasanya menanti keanehan yang akan kutemui di pemberhentian selanjutnya.

Pada akhirnya dunia di luar rumah bahkan lebih menggairahkan dibanding imajinasiku sendiri. Semesta memberiku segala hal yang ingin kulihat. Seluruh panca inderaku diasah semakin tajam. Setibanya aku di sebuah tempat, segala hal yang ada dalam diriku mempelajari sesuatu yang baru. Selalu ada pengertian dan pemahaman yang datang ketika aku memberhentikan mobilku.

Meski sampai malam ini orang-orang aneh masih tumbuh laksana rumput yang liar, nyatanya mereka juga memberiku kisah yang baru. Selalu ada orang aneh di semua tempat yang aku datangi sebelumnya. Sampai pada akhirnya aku sadar bahwa hidup sejatinya adalah rentetan keanehan. Hidup selalu menyuguhkan segala hal aneh dan hidup kita sendiri adalah keanehan di mata orang lain. Sama seperti kakakku menilai keanehan yang ada dalam diriku.

Dilihatnya aku sebagai seorang pengembara yang membabi buta mencari arah tanpa pernah sampai di tujuan, kakakku pernah mengatakan bahwa hidupku yang tanpa tujuan adalah sebuah kesalahan. Hatiku tidak pernah berhenti bertanya. Sejak kapan seseorang salah karena tidak memiliki tujuan? Kusimpan pertanyaan itu dalam hatiku tanpa pernah kusampaikan secara lisan. Bagaimanapun, selalu ada maksud baik di balik kata-katanya. Dan sebenarnya kakakku sendiri aneh di mataku, ketika mengatakan bahwa kebahagiaan hidup adalah menjadi seorang pegawai negeri. Namun aku juga tidak pernah menyampaikannya. Semua kusimpan dalam diam karena kupahami menjadi seorang saudara tidak harus selalu sepaham.

Aku menginjak pedal gas dan mempertahankan kecepatan mobilku pada angka 60 kilometer per jam. Kota sunyi yang barusan menjadi tempat beristirahatku telah berlalu. Kegelapan hutan kembali terhampar di kiri dan kananku. Lampu jauh mobil aku nyalakan dan kuketahui bahwa pepohonan yang ada di kiri kananku adalah deretan pohon pinus. Kemudian kuyakini kakakku berumur panjang, sebab tepat setelah aku mengingatnya, panggilan darinya masuk ke gawaiku. Aku menyambungkan panggilan yang masuk di gawaiku ke speaker mobil. Panggilannya tetap kujawab meski sudah kutebak arah pembicaraannya.

“Dek,” sapanya.

“Halo, Kak. Kenapa?”

“Ibu meninggal. Serangan jantung,”

Aku menginjak rem dengan cepat hingga ban belakang mobilku berdecit, Kupertahankan stir agar mobil tidak terguling. Dari spion mobil, kulihat tapak hitam ban mobilku yang membentang berkelok liat sekitar tiga meter panjangnya. Aku terdiam sembari terus mencerna perkataan kakakku.

“Dek?” panggil kakakku lagi dari panggilan telepon.

“Iya, Kak.”

“Pulang. Ibu minta kamu pulang. Dan..,” kakakku menghentikan ucapannya.

Aku terdiam dan heran dengan kakakku yang tiba-tiba berhenti berbicara.

“Dan apa, Kak?” tanyaku.

“Ibu minta kamu mendaftar PNS tahun ini.”

Aku langsung mematikan panggilan dari kakakku. Kuputar stir mobil dan berbalik arah. Mobil kupacu pada kecepatan 60 kilometer per jam, sembari kucermati jalan tercepat ke arah Surakarta melalui peta yang ada di gawaiku. Mobil berderu memecah keheningan kota sunyi yang baru saja kulewati. Aku memasukkan gigi lima dan kembali menekan pedal gas lebih dalam. Kecepatan mobilku sampai di angka 80 kilometer per jam, air mata mengalir di pipiku ketika mengingat pesan terakhir ibu. Dan baru kusadari bahwa yang abadi bukan hanya perjalananku, melainkan juga perjalanan ibuku. Aku tidak akan memikirkan terlebih dahulu soal siapa yang sebenarnya memintaku mendaftar PNS tahun ini. Kali ini, aku hanya ingin pulang. Aku hanya ingin menghantar ibuku menuju pengembaraan terakhirnya.***

Supermarket 24 Jam-Wonosobo, 2021

 

Biodata Penulis

Kristophorus Divinanto – Lahir di Cilacap, Jawa Tengah. Bekerja sehari-hari sebagai guru sekolah dasar. Gemar membaca manga dan masih setia menunggu One Piece tamat. Pemilik akun Instagram @kristophorus.divinanto.

Tinggalkan Balasan