Pendapatan Daerah Sampang tidak Efektif dan Mandiri pada P-APBD 2021

Wahyudi, Peneliti Lembaga studi Perubahan dan Demokrasi (LsPD).

Sampang – Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) Kabupaten Sampang Tahun Anggaran (TA) 2021 tidak efektif (berhasil guna) sesuai dengan APBD Murni TA 2021.

Unsur pembentuk Pendapatan Daerah tersebut juga tidak berhasil guna, kecuali Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah, Selasa (4/1/2022).

Berdasarkan data Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang, menurut Wahyudi peneliti Lembaga studi Perubahan dan Demokrasi (LsPD), Pendapatan Daerah P-APBD TA 2021 sebesar Rp1,7 triliun, menurun 7,68% (143,7 miliar) dibandingkan dengan APBD Murni TA 2021.

PAD-nya sebesar 135,4 miliar, Pendapatan Transfer sebesar 1,4 triliun, Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sebesar 128,9 miliar.

Dibandingkan dengan APBD Murni TA 2021 PAD tersebut menurun sebesar 40,84% atau 93,5 miliar, Pendapatan Transfer menurun sebesar 6,68% atau 104,6 miliar, dan Lain-lain Pendapatan yang Sah meningkat sebesar 72,94% atau 54,3 miliar.

Data tersebut menurut Wahyudi memperlihatkan bahwa pembentukan Pendapatan Daerah didominasi Pendapatan Transfer. Rasionya terhadap Pendapatan Daerah mencapai 84,70%. Sisanya 7,84% dari dari PAD dan 7,46% dari Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah.

BACA JUGA:  Bupati dan Polres Sampang Resmikan Gedung Baru Polsek Pangarengan

Fakta ini ditafsirkan oleh Wahyudi bahwa P-APBD Kabupaten Sampang sangat ketergantungan pada Pendapatan Transfer dari Pemerintah Pusat dan Daerah.

Tanpa Pendapatan Transfer tersebut Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang tidak mampu membiayai pelayanan publik dan pembangunan di Kabuupaten Sampang.

Dengan demikian, desentralisasi fiskal yang diperkuat lagi dengan pemberlakuan UU No. 28 Tahun 2009 untuk tujuan mendorong kemandirian fiskal daerah, ternyata hingga tahun 2021 di Kabupaten Sampang belum bisa direalisasikan.

Dengan komposisi demikian, menurut Wahyudi, sepertiya mimpi Pendapatan Daerah Kabupaten Sampang bisa mandiri. Hal ini bisa dilihat pada rasio PAD-nya terhadap Pendapatan Daerah yang hanya sebesar 7,84%.

Persentase PAD yang sangat kecil terhadap Pendapatan Daerah tidak mungkin kapasitas fiskalnya bisa mandiri. Oleh karena itu, bantuan dari Pemerintah Pusat dan daerah berupa Pendapatan Tansfer menjadi solusi untuk menutupi kelemahan fiskalnya.

Wahyudi, lebih lanjut mengatakan idealnya Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang berupaya mengurangi ketergantungan pada Pendapatan Transfer melalui upaya peningkatan PAD-nya.

Meski sulit rasionya terhadap Pendapatan Daerah melampaui Pendapatan Transfer, paling tidak upaya ini menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang serius mengurangi ketergantungan pada Pendapatan Transfer dari Pemerintah Pusat dan Provinsi Jawa Timur.

BACA JUGA:  Inovasi Kunci Wujudkan Kemandirian Fiskal Daerah

“Untuk merealisasikannya, Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang harus mampu secara bertahap menaikkan PADnya dari sektor-sektor produktif. Bukan seperti di P-APBD TA 2021 dimana PAD-nya menurun sebesar 93,5 miliar (40,84%) dibandingkan dengan APBD Murni TA 2021,” kata Wahyudi.

Tinggalkan Balasan