Opini  

Sisi Lain Kepribadian Nabi Muhammad; Humoris dan Menyenangkan

Ilustrasi foto Herlina

BangkalanNabi Muhammad SAW. Selain sebagai Rasulullah juga sebagai pemimpin umat Islam sejak masa awal turunnya Islam hingga. Banyak kisah yang menyebutkan Nabi merupakan sosok pemimpin  panutan, pengayom ummat, berhati dan berakhlak yang baik, berwibawa, dan tegas terutama  berkaitan dengan hukum Islam. Namun, jarang yang menyebutkan Nabi Muhammad sebagai pemimpin yang menyenangkan dan sering bergurau.

Sisi kemanusiaan Nabi Muhammad ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari, baik keluarga, sahabat dan lingkungan sekitarnya. Dibalik gurauan Nabi ada makna yang terkandung. Artinya, bergurau tidak boleh menyinggung hati orang lain.

Bergurau merupakan bumbu peyedap komunikasi supaya silaturrahim terjalin harmonis. Banyak tawa dan kebahagiaan yang muncul, alhasil persaudaraa semakin erat. Orang lain pun tidak canggung untuk berkomunikasi atau bertanya tentang hukum Islam kepada Nabi. Begitulah teladan Nabi, setiap gerak dan aktivitasnya memiliki makna yang harus dicontoh oleh umat Islam.

Rekam jejak kehidupan Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk menjaga komunikasi kepada orang lain dengan sebaik-baik komunikasi—mengatakan kebenaran atau yang mengandung hal positif  jika disampaikan dengan cara dan waktu yang tidak tepat—hasilnya pun menjadi buruk. Biasanya cenderung dijauhi oleh orang lain karena lisan kita yang meyinggung hati.

Dalam beberapa riwayat disampaikan oleh para sahabat yang memberikan kesaksian moment lucu Nabi ketika bergurau.

Nabi dan Humran bin Aban Ra

Dalam Hadits riwayat Imam Ahmad, pada suatu hari sahabat Humran bin Aban Ra. pernah bercerita tentang Rasululah.

Pada suatu hari ia melihat Ustman bin Affan meminta air untuk berwudhu, kemudian melakukan gerakan wudhu sebanyak tiga kali; membasuh kedua telapak tangan, berkumur-kumur, menghirup air melalui hidungnya, kemudian membasuh wajah, dilajutkan dengan membasuh kedua tangan, mengusap kepala dan terakhir membasuh kedua kaki. Tetiba Rasulullah tertawa dan berkata, “Tidakkah kalian mau bertanya apa yang menyebabkan aku tertawa?”

BACA JUGA:  Resentralisasi Pemerintahan Jokowi Menghambat Penerapan Paradiplomasi di Indonesia

Kemudian orang-orang di sekitar Nabi menanggapi dengan pertanyaan, “Apa yang membuat Engkau tertawa, wahai Amirul Mukminin?”

“Hal yang membuat aku tertawa ketika Nabi Muhammad meminta didatangkan air untuk berwudhu di tempat ini. Setelah air tersedia, beliau berwudhu sebagaimana gerakan yang aku tunjukan tadi. Selesainya, beliau tertawa dan bersabda, “Tidakkah kalian mau bertanya apa yang meyebabkan aku tertawa?”

Orang-orang di sana kemudian menanggapi, “Apa yang membuat Engkau tertawa, wahai Rasulullah?”

Rasul menjawab, “Ketika seorang hamba sedang berwudhu, lalu membasuh wajahnya, maka Allah menghapus semua kesalahan yang dilakukan oleh wajahnya. Ketika ia membasuh kedua tangannya, Allah menghapus semua kesalahan yang dilakukan oleh wajahnya. Ketika ia membasuh kedua tanganya, Allah menghapus semua kesalahan yang dilakukan oleh kedua tangannya. Ketika ia membasuh kepalanya, Allah menghapus semua kesalahan yang dilakukan oleh kepalanya. Ketika ia membasuh kedua kakinya, Allah menghapus kesalahan yang dilakukan oleh kedua kakinya.”

Menyampaikan ajaran Islam seperti momen kisah Rasul di atas menggambarkan sosok Nabi Muhammad yang murah senyum kepada orang lain. Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin sekaligus pendidik dengan mendemontrasikan gerakan wudhu di depan sahabat-sahabatnya.

Cerita di atas mengandung nilai keimanan, Maha pengampun Allah atas dosa hambanya. Peristiwa tersebut mngundang senyum dan kekaguman Nabi kepada Tuhan. Jika Tuhan mencintai hambanya dengan seluas-luas kasih sayang, bagaimana hambanya yang sering berkeluh kesah dan sesekali pernah menilai ketidak adilan Tuhan tanpa melihat sisi lainnya.

BACA JUGA:  Rekayasa APBD untuk Menunda Pilkades Sampai 2025 di Bangkalan

Humor Nabi “Warna Putih di dalam Mata”

Suatu kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi, suatu hari Zaid bin Aslam pernah bercerita tentang Rasulullah. Waktu itu ada perempuan datang menghadap kepada Nabi Muhammad dan berkata “Suamiku ingin mengundang Engkau.” Ia menyampaikan pesan dari suaminya.

“Siapa suamimu? Bukankah suamimu adalah orang yang di matanya terdapat warna putih?” Nabi bertanya dengan ditambahi maksud gurauan di dalam hatinya.

“Demi Allah, di mata suamiku tidak ada putihnya,” perempuan itu menegaskan kepada Nabi.

“Sungguh, di mata suamimu ada putihnya!” Rasul juga menegaskan.

“Demi Allah, di mata suamiku tidak ada putihnya,” perempuan tersebut tetap membela suaminya.

Kemudian Rasulullah bersabda “tidak ada seorang pun yang di matanya tidak terdapat warna putih.”

Dalam riwayat lain juga menyebutkan, Rasulullah pernah bersabda “Bukankah di setiap mata terdapat wana putih?”

Sedang dalam riwayat Abdari, perempuan yang datang menghadap kepada Rasul berkata “Apakah suamiku sedang sakit”

Nabi menanggapi “Barangkali di mata suamimu terdapat warna putih!” Kemudian perempuan itu pulang berniat mengecek keadaan suaminya dan membuka kelopak mata suaminya untuk memastikan sabda Nabi tersebut.

“Apa yang kau lakukan ini?” suami si perempuan bertanya dengan sikap tidak mengerti.

Istrinya pun menjelaskan “Rasulullah memberitahukan kepadaku bahwa di kedua matamu terdapat warna putih.”

BACA JUGA:  Madura Pulau PLT

“Sial kau! Bukankah setiap orang di kedua matanya memang terdapat warna putih?” suaminya menegaskan.

Kisah Nabi Muhammad ini menjadi contoh bagi umatnya bahwa membangun komunikasi itu penting karena dapat memunculkan rasa nyaman sehingga silaturrahim tetap terjalin. Dalam kehidupan sosial kemunikasi menjadi kunci utama membangun hubungan baik dengan orang lain, salah satunya dengan bergurau, seperti dalam kisah Nabi Muhammad SAW.

Kisah di atas mengandung fakta bahwa mata manusia tidak hanya terdiri dari warna hitam saja, ada warna putih yang menyertainya. Gurauan tersebut didasarkan pada realita yang ada.

Nabi Muhammad sebagai pemimpin yang berhasil mendapat cinta dari umat Islam. Beliau membangun hubungan baik sehingga beliau dicintai oleh umat Islam. Berbuat baik bukan hanya tentang bersedekah, mengamalkan rukus Islam, dan menolong orang kesulitan.

Berbuat baik juga bisa melalui komunikasi verbal dengan gurauan yang tidak menyinggung hati orang lain, menjaga lisan juga termasuk akhlak kepada orang lain. Dengan begitu, orang akan merasa aman dan nyaman berkomunikasi dengan kita.

Wallahu a’lam.

Herlina adalah alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini, ia menetap di Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan