Sampang — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ketapang Bin Salam, Kabupaten Sampang, menjadi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama di wilayah Madura yang mengantongi sertifikat halal.
Dapur MBG milik H. Abdussalam, yang akrab disapa H. Dus, resmi memperoleh sertifikat halal setelah melalui proses verifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Pendamping Proses Produk Halal (P3H) Kementerian Agama Kabupaten Sampang, Abdul Wahab, membenarkan capaian tersebut.
“Iya benar, dapur MBG milik Abah Dus ini yang pertama mengantongi sertifikat halal untuk dapur MBG di Madura,” ujar Wahab saat ditemui di lokasi dapur Ketapang Bin Salam, Rabu (18/3/2026).
Menurut Wahab, proses pengajuan sertifikat halal untuk dapur MBG memiliki mekanisme berbeda dibandingkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Untuk dapur MBG, pengajuan dilakukan melalui jalur reguler dengan standar verifikasi yang lebih ketat.
Ia mengingatkan seluruh pengelola dapur SPPG di Madura agar segera mengurus sertifikasi halal, mengingat adanya kewajiban nasional yang akan diberlakukan dalam waktu dekat.
“Mulai 17 Oktober 2026, seluruh produk UMKM, rumah makan, restoran, kafe, termasuk dapur MBG, wajib memiliki sertifikat halal untuk dapat beroperasi,” katanya.
Menurutnya, sertifikat halal bukan sekadar formalitas, melainkan jaminan legalitas dan kepercayaan publik terhadap makanan yang disajikan.
“Dapur MBG yang sudah bersertifikat halal berarti memiliki kepastian bahwa seluruh menu yang disajikan aman dan sesuai ketentuan halal,” ujarnya.
Sementara itu, H. Abdussalam menyatakan rasa syukur sekaligus kebanggaannya atas capaian tersebut. Ia menilai sertifikat halal menjadi langkah penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG yang dijalankan.
“Alhamdulillah, ini bukan hanya kebanggaan bagi kami, tetapi juga tanggung jawab. Sertifikat halal ini menjadi bukti bahwa kami serius menjaga kualitas, kebersihan, dan kehalalan setiap makanan yang kami sajikan untuk masyarakat,” ujar H. Dus.
Ia menegaskan, dapur MBG yang dikelolanya akan terus menjaga standar operasional yang ketat, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses distribusi makanan.
“Kami ingin dapur MBG ini bukan hanya sekadar menjalankan program, tetapi menjadi contoh bahwa pelayanan gizi masyarakat harus dilakukan dengan standar terbaik. Ke depan, kami juga siap menjadi rujukan bagi dapur-dapur MBG lain, khususnya di Madura,” pungkasnya.
