Wajah Baru Arab Saudi

Saudi Arabiya
Bendera Arab Saudi (Sumber foto: Wikimedia)

Arab merupakan negara yang memiliki sejarah yang tidak akan dilupakan—terutama oleh masyarakat Muslim—tentang asal-muasal lahirnya agama Islam. Secara politik, Arab Saudi menganut sistem monarki absolut di mana pemimpin yang mengatur jalanya pemerintahan berasal dari keturunan Nabi Muhammad SAW., dan tidak boleh digantikan oleh orang lain selain dari keturunan kerajaan.

Sementara dalam bidang sosial dan budaya adalah ultra konservatif. Artinya, setiap kegiatan sehari-hari harus sesuai dengan Al-Qur’an dan hadist sebagai identitas negara tersebut. Kegiatan yang dimaksud seperti: perempuan dilarang berbaur dengan laki-laki; tidak boleh bepergian tanpa wali; perempuan dilarang menyetir kendaraan.

Dari segi ekonomi, Arab Saudi sangat bergantung pada kekayaan minyak buminya yang kemudian diekspor ke luar negeri. Ketergantungan ini sudah ada sejak tahun 20-an di mana minyak di Timur Tengah ditemukan satu persatu dari Bahrain dan Kuwait.

Ketergantungan ekonomi terhadap minyak ini tidak akan bertahan selama-lamanya. Sebab, minyak bumi tidak dapat diperbaharui dan sewaktu-waktu akan habis. Oleh karena itu, setiap negara perlu memiliki rencana jangka panjang terutama dalam bidang ekonomi. Jika hanya mengandalkan minyak bumi, bisa saja sewaktu-waktu minyak bumi itu akan habis dan akan menghentikan perekonomian negara yang hanya bergantung pada minyak. Minyak tidak menjamin akan bertahan lama.

Kejadian tersebut sudah dialami oleh Venezuela, dimana negara tersebut yang awalnya memiliki kekayaan minyak yang luar biasa dan kemudian menjadi negara gagal akibat ekonominya merosot. Salah satu faktornya adalah perminyakan sudah tidak lagi menjamin keberlangsungan ekonomi jangka panjang.

Untuk menghindari kejadian yang serupa dengan Venezuela tersebut, maka negara-negara yang sebelumnya bergantung pada ekonomi perminyakan merombak kembali tatanan ekonomi negara pada pendapatan selain dari kekayaan minyak seperti yang terjadi pada Saudi Arabia ini.

BACA JUGA:  Fadli Zon Suarakan Solidaritas Global Demi Tekan Ketimpangan Struktural Ekonomi Dunia di Forum PBB

Perubahan arah perekonomian di Saudi Arabia terjadi setelah Muhammad bin Salam (MBS) dinobatkan sebagai Putra Mahkota pada tahun 2016. Di tangan MBS ini Arab Saudi direncanakan akan menganut sistem Islam yang semakin moderat, di mana kondisi budaya dan sosial yang dicap ultra konservatif menjadi semakin longgar.

Ini semata-mata untuk mengubah haluan dari yang awalnya ekonomi bergantung terhadap minyak alam menjadi transportasi dan logistik nasional. Rencana yang dimulai dari tahun 2016 ini diharapkan berhasil pada tahun 2030, dimana tahun tersebut merupakan tahun target berhasilnya SDGs (Sustuinable Divelopment Goal’s) yang direncanakan oleh PBB sebagai PR bagi negara-negara yang bergabung dengan PBB untuk kesejahteraan masyarakat Internasional.

Untuk mencapai keberhasilan terbut, Saudi Arabia perlu mengikutsertakan semua kalangan masyarakat yang ada di Saudi Arabia, baik laki-laki maupun perempuan. Dari situlah ada perubahan-perubahaan konstruksi sosial yang sebelumnya sangat kaku menjadi lebih terbuka, terutama terhadap perempuan yang sebelumnya seperti hidup di dalam sangkar kini menjadi lebih bebas mengambil peran dalam lingkup sosialnya.

Besar harapan MBS di tahun 2030 untuk menjadikan Saudi Arabia menjadi negara yang moderat dan ekonominya menjadi lebih fleksibel tidak hanya berfokus pada minyak bumi yang tidak dapat diperbaharui. Akan tetapi, perubahan-perubahan ekonomi-sosial yang dirubah untuk mencapai target pada tahun 2030 akan dijelaskan pada poin berikut.

Kebebasan Berekspresi bagi Perempuan
Perempuan Arab Saudi sebelum ada perubahan strategi yang diproyeksikan pada tahun 2030 sangat terkekang dan tidak terfungsikan. Mereka tidak diperbolehkan untuk menyetir dan pergi tanpa wali.

BACA JUGA:  Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun RI Raih Penghargaan Internasional

Setelah Muahmmad bin Salman menduduki sebagai putra mahkota, kini posisi perempuan sudah mulai diakui sedikit demi sedikit. Mereka sudah diperbolehkan menyetir bahkan pergi kemanapun tanpa harus disertai oleh wali.

Selain itu, perempuan juga sudah bisa bekerja ditempat umum dan menduduki bidang-bidang tertentu yang sebelumnya tidak diperbolehkan seperti menjadi tentara, olahragawati dan posisi strategis dipemerintahan.

Untuk masalah pakaian, perempuan sudah tidak wajib lagi menggunakan abaya namun tetap berpakaian sopan. Kebijakan tersbut diberikan untuk memermudah bagi perempuan dalam melakukan aktivitas sosial.

Membuka Bioskop
Untuk menarik investror dari negara lain, Arab Saudi mencabut larangan membuka bioskop yang sudah berumur 35 tahun. Arab Saudi melarang Bioskop sekitar tahun 1983 dikarenakan menganggap bioskop merupakan media edukasi yang berbau porno yang notabene dari Hollywood.

Pada tahun 2018, tepatnya Rabu 18 April, Arab Saudi membuka bioskop pertama kali yang terletak di gedung Sinfoni di Riyadh, Ibu Kota Saudi Arabia. Bahkan masih ada rencana pembangunan bioskop sebanyak 200 yang diinvistori oleh Meksiko.

Aturan dalam pemanfaatan bioskop ini tidak jauh berbeda dari negara lain, di sana tidak ada pembatas antara laki-laki dan permpuan—bebas berbaur. Selain untuk menarik investor asing, pembangunan biokop dilakukan agar warga Arab tidak menghambur-hamburkan uangnya ke luar negeri yang sudah lebih dahulu menfasilitasi bioskop seperti di Dubai, UEA , Qatar serta negara-negara Timur Tengah lainya yang lebih dahulu melakukan reformasi ekonomi dan sosial.

Membangun Tempat-Tempat Hiburan
Selain membangun bioskop, Saudi Arabia juga membangun tempat-tempat hiburan lain untuk membangkitkan rasa modernisasi seperti musik, taman olahraga, sepak bola, sirkuit dan beberapa hiburan lainya. Pembangunan sejenis ini diformulasikan untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi.

BACA JUGA:  Pernyataan Pemerintah Indonesia terkait Serangan Militer di Ukraina

Reformasi yang dilakukan oleh MBS cukup mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Negara yang sebelumnya memiliki sistem ultra konservatif di semua sistem, kini menjadi negara yang bebas dalam konteks sosial-ekonominya.

Secara politik, masih tetap sama dalam sistem monarki absolut. Pada politik sendiri Arab Saudi justru sangat menolak adanya Arab spring di mana pesta demokrasi akan mengubah wajah baru sebagaimana yang terjadi di negara Timur Tengah, layaknya Mesir.

Perubahan ekonomi sosial yang dibangun oleh MBS menimbulkan pertanyaan antara modernisasi atau westernisasi. Sebab perubahan-perubahan yang dilakukan tersebut seperti duplikasi gaya kebarat-baratan. Bukan lagi khas Timur Tengah yang sangat konservatif.

Modernisasi yang dimasukan ke Arab ala-ala modernisasi barat, bukan konstruksi dari dunia Arab sendiri untuk membedakan antara modernisasi ala barat dengan modrnisasi ala Timur Tengah. Tidak ada yang berbeda selain politiknya yang masih monarki absolut. Bahkan kebijakan ini akan menyeret masyarakan Arab ke penjera jika berani membantah kebijakan revolusi ekonomi dan sosial ini.

 

Ma’iyah Arrosyid, Tampojung Tengah, Waru, Pamekasan. Mahasiswi semester akhir Universitas Respati Yogyakarta. Prodi S1 Hubungan Internasional. Mantan ketua Himpunan Muslimah (HMMAH) FKMSB wilayah Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan