Menurutnya, kebersamaan dalam berbagai ibadah Ramadan menunjukkan bahwa keberkahan lahir dari persatuan. “Persatuan dibangun melalui percakapan dan dialog untuk mencari titik temu yang menjadi titik tumpu dalam mewujudkan kemajuan bangsa,” kata Tholabi.
Ia menegaskan bahwa Idulfitri seharusnya tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. “Pribadi-pribadi yang fitri pada titik paling ideal akan melahirkan kebaikan-kebaikan bagi lingkungannya,” tandasnya.
Spirit kemabruran puasa Ramadan harus menjadi pedoman dalam kehidupan individu dan sosial. “Spirit kemabruran puasa Ramadan harus jadi pemandu atau kompas untuk mewujudkan relasi individu, baik di ruang privat maupun di ruang publik. Inilah sejatinya esensi Idulfitri yang kita rayakan pada hari ini,” ujar Tholabi.
Dia menambahkan bahwa keberlanjutan semangat Ramadan akan memberi dampak positif bagi negeri ini. “Indonesia tercinta akan tetap diterangi dengan kebaikan, kemuliaan, dan kesejahteraan,” katanya.
Menurut Tholabi, kemajuan Indonesia hanya dapat terwujud melalui usaha kolektif. “Tentu saja dengan ikhtiar dan perjuangan yang dilakukan secara bersama-sama untuk mewujudkan negara Indonesia yang maju dan sejahtera dalam naungan ridha Allah,” tutupnya.
Salat Idulfitri di Masjid Istiqlal dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, dan Menteri Agama Nasarudin Umar. Hadir pula para menteri Kabinet Merah Putih serta duta besar negara sahabat.
