I- RAJA TAK PERNAH PENSIUN
Jangan main-main sama raja Jawa,
kata angin di tengah sawah.
Raja itu tahu jalan pulang
meski istana sudah pindah tangan.
Ia diam, tapi tidak lengah.
Ia pensiun, tapi tidak pulang ke rumah.
Ia tersenyum di balik jendela warung kopi
dan menyimak rakyat ramai memaki.
Raja itu seperti bayangan
yang tak bisa dicuci dari dinding kenangan.
Ia duduk di kursi tamu
tapi tangannya masih mengatur pintu.
Jangan main-main, bung.
Raja Jawa itu tak butuh mahkota
untuk bicara pada langit dan tanah.
Ia cukup angkat alis,
dan para menteri berdiri manis.
Ia bukan cerita yang selesai
di baris terakhir berita pagi.
Ia bab tambahan
yang disisipkan tanpa izin penerbit.
Dan kita?
Masih sibuk mengira
apakah raja sedang berjalan ke pasar
atau sedang menggambar peta baru
dengan tinta yang tak bisa kering.
Jangan main-main sama raja Jawa, bung.
Karena raja
tak pernah benar-benar pamit.
Ia hanya berpindah
dari singgasana ke senyuman.
Jagakarsa, 1 Mei 2025
II- NEGARA DALAM CELANA
Negara,
kau sembunyi di balik celana dalamku
menyamar jadi keringat
dan janji yang bau pesing.
Pagi-pagi aku bangun,
menyeduh berita basi:
ibu-ibu saling cakar
anak-anak rebutan nasi basi
bapak-bapak rebutan mikrofon
sementara negara duduk santai
menyesap kopi pahit dari air mata rakyatnya.
Di televisi,
koruptor ditangkap sambil senyum
seperti sedang wisuda
lalu pulang naik mobil mewah
dengan pengawalan kamera dan likes netizen.
Aku ingin bertanya:
kenapa Hercules dibangunkan?
Apakah dia mimpi buruk tentang ijazah palsu?
Ataukah ia hanya ingin pipis
setelah tidur panjang di kasur kekuasaan?
Negara,
kau pandai sekali menciptakan sandiwara
tiap babak, ada tokoh baru
tokoh lama diberi make-up baru
dan kita, para penonton,
duduk diam, sambil ngemil utang.
Kau tahu,
bahkan celana dalamku pun letih
menampung semua kebohongan yang kutahan tiap hari.
Ia berkata padaku semalam:
“Kalau terus begini,
aku akan bolong bukan karena usia,
tapi karena terlalu sering jadi saksi bisu
ketidakadilan yang dibungkus dengan iklan politik.”
Negara,
jika kau memang monster paling dingin
biarlah aku jadi sarung
yang menutupi malumu
walau sobek di banyak tempat.
Dan jika kau pencuri ulung,
tolonglah,
jangan curi harapan terakhir kami:
bahwa esok masih ada nasi
dan puisi.
Kalibata, 7 Mei 2025
III- TAKUT YANG TERBALIK
Sama karikatur takut.
Gambar kecil mencibir,
garis-garis tipis mencambuk hati.
Sama poster takut.
Huruf-huruf berdiri tegak,
seperti mata-mata yang mengawasi.
Sama lagu takut.
Nada-nada berbisik tajam,
mengiris telinga seperti pisau sunyi.
Tapi giliran Tuhan?
Tak ada gemetar,
tak ada gentar,
tak ada resah.
Seolah Tuhan cuma bayangan di tembok,
bukan cahaya yang menyala di dada.
Kalibata, 8 Maret 2025
VI – KATA SEMESTA
Hati saya ingin cinta.
Yang sederhana saja:
seseorang yang rela menunggu saya pulang,
meski saya sering tersesat di pikiran sendiri.
Pikiran saya ingin kekayaan.
Yang wajar-wajar saja:
rumah kecil yang tak bocor,
kulkas isi penuh,
dan utang yang tinggal kenangan.
Jiwa saya ingin damai.
Yang lembut-lembut saja:
tidur tanpa mimpi buruk,
bangun tanpa cemas tentang esok,
dan napas yang tak perlu dikejar-kejar tagihan.
Tapi semesta,
yang katanya bijak dan penuh rahasia,
berkata sambil mengaduk kopi:
“Kamu hanya boleh pilih satu.”
Saya protes.
Saya kirim doa dan daftar permintaan.
Saya tawarkan barter,
bahkan potong gaji ketenangan batin.
Tapi semesta keras kepala.
Akhirnya saya pilih cinta.
Ternyata cinta datang dengan kekhawatiran.
Lalu saya pindah ke kekayaan.
Ternyata kekayaan datang dengan kesepian.
Lalu saya berlari ke kedamaian.
Ternyata damai itu sunyi,
dan saya jadi rindu cinta.
Kini saya duduk,
ditemani secangkir kopi yang dingin,
dan semesta yang masih tak menjawab.
Saya ingin semuanya.
Tapi saya hanya manusia:
berhak berharap,
tak berhak memilih isi langit.
Depok, 10 Mei 2025
V – PERJALANAN YANG TIDAK BISA DIJELASKAN OLEH PETA
(Isyarah Syaichona Moh. Kholil Bangkalan kepada Kh. Hasyim Asy’ari untuk Nahdlatul Ulama)
KH. As’ad Syamsul Arifin tidak naik kuda.
Tidak naik kereta api.
Tidak naik angin.
Ia berjalan kaki,
dari Bangkalan ke Jombang,
membawa tongkat,
membawa tasbih,
membawa pesan yang tak bisa dibungkus kertas,
hanya bisa dipikul dengan dada yang lapang.
Syaichona Muhammad Kholil Bangkalan tidak menulis surat.
Ia hanya memberikan isyarat,
dengan tatap mata yang dalamnya
lebih dari sumur tua.
“As’ad, antarkan tongkat ini kepada KH. Hasyim Asy’ari.
Juga tasbih ini.
Dan sampaikan wirid itu:
Ya Jabbar, Ya Qohar”
Lalu sunyi menyelimuti pesan itu
seperti kabut pelan di pagi pondok.
Perjalanan dimulai.
KH. As’ad berjalan,
melewati sawah yang mengantuk,
desa-desa yang belum tahu bahwa sejarah sedang lewat,
dan ayam-ayam yang tak bertanya apa-apa.
Ia tidak bercerita pada siapa pun.
Karena kadang, amanah adalah rahasia
yang lebih berat dari karung beras,
lebih panjang dari jalan raya.
Di Jombang,
KH. Hasyim Asy’ari menerima tongkat itu
seperti menerima rencana langit.
Tasbih itu ia genggam
seperti menggenggam denyut umat.
Dan wirid itu ia ucapkan
di antara napas yang tak sempat panjang:
“Ya Jabbar, ya Jabbar, ya Jabbar.
Ya Qohar, ya Qohar, ya Qohar.”
Tak ada tepuk tangan.
Tak ada bendera dikibarkan.
Tapi langit di atas Jombang
bergetar sebentar,
seperti ikut mengucapkan “amin.”
Lalu Nahdlatul Ulama berdiri—
bukan dari gedung,
tapi dari jalan kaki,
tongkat kayu,
tasbih sunyi,
dan dua kalimat wirid
yang membuat bumi sedikit lebih sabar.
Dan sejarah,
yang biasanya keras kepala,
kali ini menunduk hormat
kepada para wali yang berjalan pelan
dan bicara pelan,
tapi mengubah dunia.
Jakarta Selatan, 24 April 2024
***Moh Ridlwan adalah penulis puisi-puisi satir yang tajam dan menyentuh, menggambarkan keresahan rakyat dengan bahasa yang lugas namun penuh makna. Karyanya sering mengangkat tema sosial-politik dengan cara yang unik, penuh ironi, dan membekas di hati pembaca.
