Puisi  

Puisi-Puisi Moh. Ridlwan

Madurapers
Ilustrasi Celana dalam Negara
Ilustrasi oleh penulis, Celana dalam Negara

I- RAJA TAK PERNAH PENSIUN

 

Jangan main-main sama raja Jawa,

kata angin di tengah sawah.

Raja itu tahu jalan pulang

meski istana sudah pindah tangan.

 

Ia diam, tapi tidak lengah.

Ia pensiun, tapi tidak pulang ke rumah.

Ia tersenyum di balik jendela warung kopi

dan menyimak rakyat ramai memaki.

 

Raja itu seperti bayangan

yang tak bisa dicuci dari dinding kenangan.

Ia duduk di kursi tamu

tapi tangannya masih mengatur pintu.

 

Jangan main-main, bung.

Raja Jawa itu tak butuh mahkota

untuk bicara pada langit dan tanah.

Ia cukup angkat alis,

dan para menteri berdiri manis.

 

Ia bukan cerita yang selesai

di baris terakhir berita pagi.

Ia bab tambahan

yang disisipkan tanpa izin penerbit.

 

Dan kita?

Masih sibuk mengira

apakah raja sedang berjalan ke pasar

atau sedang menggambar peta baru

dengan tinta yang tak bisa kering.

 

Jangan main-main sama raja Jawa, bung.

Karena raja

tak pernah benar-benar pamit.

Ia hanya berpindah

dari singgasana ke senyuman.

Jagakarsa, 1 Mei 2025

 

II- NEGARA DALAM CELANA

 

Negara,

kau sembunyi di balik celana dalamku

menyamar jadi keringat

dan janji yang bau pesing.

 

Pagi-pagi aku bangun,

menyeduh berita basi:

ibu-ibu saling cakar

anak-anak rebutan nasi basi

bapak-bapak rebutan mikrofon

sementara negara duduk santai

menyesap kopi pahit dari air mata rakyatnya.

 

Di televisi,

koruptor ditangkap sambil senyum

seperti sedang wisuda

lalu pulang naik mobil mewah

dengan pengawalan kamera dan likes netizen.

 

Aku ingin bertanya:

kenapa Hercules dibangunkan?

Apakah dia mimpi buruk tentang ijazah palsu?

Ataukah ia hanya ingin pipis

setelah tidur panjang di kasur kekuasaan?

 

Negara,

kau pandai sekali menciptakan sandiwara

tiap babak, ada tokoh baru

tokoh lama diberi make-up baru

dan kita, para penonton,

duduk diam, sambil ngemil utang.

 

Kau tahu,

bahkan celana dalamku pun letih

menampung semua kebohongan yang kutahan tiap hari.

Ia berkata padaku semalam:

“Kalau terus begini,

aku akan bolong bukan karena usia,

tapi karena terlalu sering jadi saksi bisu

ketidakadilan yang dibungkus dengan iklan politik.”

 

Negara,

jika kau memang monster paling dingin

biarlah aku jadi sarung

yang menutupi malumu

walau sobek di banyak tempat.

 

Dan jika kau pencuri ulung,

tolonglah,

jangan curi harapan terakhir kami:

bahwa esok masih ada nasi

dan puisi.

Kalibata, 7 Mei 2025

 

III- TAKUT YANG TERBALIK

 

Sama karikatur takut.

Gambar kecil mencibir,

garis-garis tipis mencambuk hati.

 

Sama poster takut.

Huruf-huruf berdiri tegak,

seperti mata-mata yang mengawasi.

 

Sama lagu takut.

Nada-nada berbisik tajam,

mengiris telinga seperti pisau sunyi.

 

Tapi giliran Tuhan?

Tak ada gemetar,

tak ada gentar,

tak ada resah.

 

Seolah Tuhan cuma bayangan di tembok,

bukan cahaya yang menyala di dada.

Kalibata, 8 Maret 2025

 

VI – KATA SEMESTA

 

Hati saya ingin cinta.

Yang sederhana saja:

seseorang yang rela menunggu saya pulang,

meski saya sering tersesat di pikiran sendiri.

 

Pikiran saya ingin kekayaan.

Yang wajar-wajar saja:

rumah kecil yang tak bocor,

kulkas isi penuh,

dan utang yang tinggal kenangan.

 

Jiwa saya ingin damai.

Yang lembut-lembut saja:

tidur tanpa mimpi buruk,

bangun tanpa cemas tentang esok,

dan napas yang tak perlu dikejar-kejar tagihan.

 

Tapi semesta,

yang katanya bijak dan penuh rahasia,

berkata sambil mengaduk kopi:

“Kamu hanya boleh pilih satu.”

 

Saya protes.

Saya kirim doa dan daftar permintaan.

Saya tawarkan barter,

bahkan potong gaji ketenangan batin.

 

Tapi semesta keras kepala.

 

Akhirnya saya pilih cinta.

Ternyata cinta datang dengan kekhawatiran.

Lalu saya pindah ke kekayaan.

Ternyata kekayaan datang dengan kesepian.

Lalu saya berlari ke kedamaian.

Ternyata damai itu sunyi,

dan saya jadi rindu cinta.

 

Kini saya duduk,

ditemani secangkir kopi yang dingin,

dan semesta yang masih tak menjawab.

 

Saya ingin semuanya.

Tapi saya hanya manusia:

berhak berharap,

tak berhak memilih isi langit.

Depok, 10 Mei 2025

 

V – PERJALANAN YANG TIDAK BISA DIJELASKAN OLEH PETA

(Isyarah Syaichona Moh. Kholil Bangkalan kepada Kh. Hasyim Asy’ari untuk Nahdlatul Ulama)

 

KH. As’ad Syamsul Arifin tidak naik kuda.

Tidak naik kereta api.

Tidak naik angin.

Ia berjalan kaki,

dari Bangkalan ke Jombang,

membawa tongkat,

membawa tasbih,

membawa pesan yang tak bisa dibungkus kertas,

hanya bisa dipikul dengan dada yang lapang.

 

Syaichona Muhammad Kholil Bangkalan tidak menulis surat.

Ia hanya memberikan isyarat,

dengan tatap mata yang dalamnya

lebih dari sumur tua.

 

“As’ad, antarkan tongkat ini kepada KH. Hasyim Asy’ari.

Juga tasbih ini.

Dan sampaikan wirid itu:

Ya Jabbar, Ya Qohar”

 

Lalu sunyi menyelimuti pesan itu

seperti kabut pelan di pagi pondok.

 

Perjalanan dimulai.

KH. As’ad berjalan,

melewati sawah yang mengantuk,

desa-desa yang belum tahu bahwa sejarah sedang lewat,

dan ayam-ayam yang tak bertanya apa-apa.

 

Ia tidak bercerita pada siapa pun.

Karena kadang, amanah adalah rahasia

yang lebih berat dari karung beras,

lebih panjang dari jalan raya.

 

Di Jombang,

KH. Hasyim Asy’ari menerima tongkat itu

seperti menerima rencana langit.

Tasbih itu ia genggam

seperti menggenggam denyut umat.

Dan wirid itu ia ucapkan

di antara napas yang tak sempat panjang:

 

“Ya Jabbar, ya Jabbar, ya Jabbar.

Ya Qohar, ya Qohar, ya Qohar.”

 

Tak ada tepuk tangan.

Tak ada bendera dikibarkan.

Tapi langit di atas Jombang

bergetar sebentar,

seperti ikut mengucapkan “amin.”

 

Lalu Nahdlatul Ulama berdiri—

bukan dari gedung,

tapi dari jalan kaki,

tongkat kayu,

tasbih sunyi,

dan dua kalimat wirid

yang membuat bumi sedikit lebih sabar.

 

Dan sejarah,

yang biasanya keras kepala,

kali ini menunduk hormat

kepada para wali yang berjalan pelan

dan bicara pelan,

tapi mengubah dunia.

Jakarta Selatan, 24 April 2024

 

***Moh Ridlwan adalah penulis puisi-puisi satir yang tajam dan menyentuh, menggambarkan keresahan rakyat dengan bahasa yang lugas namun penuh makna. Karyanya sering mengangkat tema sosial-politik dengan cara yang unik, penuh ironi, dan membekas di hati pembaca.