Silaturahmi 15 Perguruan Silat Madura Digelar di Bangkalan, Mayjen Farid Makruf Tekankan Pelestarian Tradisi

Madurapers
Mayjen Farid Makruf didampingi Wakil Ketua Wakil Ketua SPKSM Ilzam Mussholeh hadiri silaturahim 15 perguruan pencak silat Madura di Bangkalan. (Foto: MP)

BANGKALAN — Silaturahmi lintas perguruan pencak silat Madura digelar di Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, pada Sabtu malam akhir Desember 2025. Kegiatan yang difasilitasi Silaturahmi Perguruan Keluarga Silat Madura (SPKSM) tersebut diikuti 15 perguruan silat dari berbagai daerah di Madura sebagai upaya mempererat persaudaraan dan menjaga tradisi bela diri warisan leluhur.

Acara berlangsung dengan suasana tertib dan antusias. Arena latihan dihidupkan oleh iringan musik tetabuhan khas Madura. Dua pesilat menampilkan atraksi pencak clurit, senjata tradisional Madura, dengan gerakan cepat dan terampil. Demonstrasi tersebut mendapat sambutan tepuk tangan dari peserta dan penonton.

Kegiatan ini turut dihadiri Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A., yang hadir tanpa pengamanan berlapis dan berinteraksi langsung dengan para pesilat. Ia tampak menyapa dan menyalami peserta, didampingi Wakil Ketua SPKSM Ilzam Mussholeh.

Sebanyak 15 perguruan silat mengikuti kegiatan ini, di antaranya PPS Perisai Putih Nusantara dari Junok Bangkalan yang dipimpin Saiful Islam, PPS Garuda Sakti Muda dari Rabesen Parseh di bawah Moh. Anshori, PPS Pagar Alas dari Ba’engas Tambak Agung dengan ketua Ainul Yakin, serta Singo Barong dari Desa Banjar yang diketuai Sali.

Perguruan lain yang hadir meliputi PPS Bintang Bawean Putra dari Sattowan Pejagan (ketua Saru’din), PS Macan Putih dari Naro’an Timur (ketua Ashari Maulana), PPS Gajah Putih dari Jeng Delem Gigir (dipimpin H. Mustofa), PPS Lesap Tapak Kaki Kuda dari Desa Demangan Tunjung (ketua Subaidah/Aida Santana), Sonda Slewa Warna dari Jaddih Timur (ketua Mahmud Kamsuri), PPS Perisai Diri di Jalan Raya Ketengan (ketua Marsuki), Mega Sakti dari Dusun Kolak Sukolilo Barat (ketua Achmad Tanzil), PPS Harimau Bafam Bangkalan dari Pejagan, PPS Sapujagat dari Desa Kesek (ketua Mukit), Pagar Nusa Langkap dari Ponpes Darul Hikmah (pimpinan Gus Imam Djauhari), serta PBB (Pesilat Bersatu Bersaudara) dari Dusun Trajan Robatal Sampang yang dipimpin Miftahul Ma’arif Bahmas.

Usai sesi perkenalan, para guru silat memperagakan jurus andalan masing-masing yang mencerminkan karakter pencak silat Madura—cepat, tegas, dan efektif. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama dan pengarahan dari Mayjen Farid Makruf.

Dalam sambutannya, Farid menegaskan bahwa pencak silat memiliki nilai strategis sebagai warisan budaya sekaligus sarana pembentukan karakter generasi muda.

“Silat itu warisan leluhur kita, terutama pencak silat Madura, ini adalah warisan turun temurun yg harus kita lestarikan,” ujar Farid.

Ia menekankan bahwa pencak silat tidak hanya berorientasi pada kemampuan fisik semata.

“Silat itu bukan soal pukulan dan tendangan saja. Silat itu membentuk jiwa.”

“Silat bukan untuk gagah-gagahan, tetapi untuk pembelaan diri. Silat ini untuk membentuk jiwa ksatria,” ucapnya.

Farid juga mengapresiasi peran SPKSM dan para ketua perguruan yang dinilainya berhasil menjaga semangat kebersamaan di tengah pesilat Madura.

“Berlatih tanpa bertanding itu seperti mengasah pisau, tapi tidak pernah digunakan pada sasaran,” katanya.

Di hadapan para pesilat muda, Farid turut membagikan pengalaman masa kecilnya di Madura.

“Dulu, setiap habis ngaji, saya latihan silat. Di belakang rumah,” ujarnya.

“Kalau sekarang saya jadi tentara, itu karena dulu belajar silat.”

Menurut Farid, pencak silat berperan sebagai benteng moral yang menjauhkan generasi muda dari narkoba dan pergaulan negatif, sekaligus menanamkan disiplin sejak dini.

“Ingat akar yang dijaga akan selalu menumbuhkan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.