Charles Meikyansah juga mengingatkan bahwa tekanan perdagangan global bisa berdampak pada penerimaan negara dan stabilitas tenaga kerja. Ia mendorong pemerintah agar melakukan mitigasi sejak dini guna menjaga stabilitas APBN dan daya beli masyarakat.
“Jika ekspor terganggu dan industri padat karya terpukul, maka efek dominonya bisa sampai ke penerimaan pajak dan daya beli masyarakat. Itu artinya tekanan ke APBN makin besar. Tapi dengan mitigasi yang baik dari Pemerintah, hal tersebut dapat dihindari,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya roadmap perdagangan dan fiskal yang antisipatif dengan menyasar pasar-pasar non-tradisional. Diversifikasi ekspor ke negara-negara BRICS dan Afrika dinilai sangat relevan dalam konteks ini.
“Kita juga perlu mendorong peningkatan daya saing produk UMKM dan industri manufaktur,” jelas Charles, menyoroti pentingnya penguatan sektor domestik.
Pada akhirnya, Charles menilai langkah Indonesia bergabung dengan BRICS akan memperkokoh fondasi perekonomian nasional. Ia optimistis kolaborasi lintas sektor akan mempercepat pertumbuhan dan daya tahan ekonomi ke depan.
“Dengan kolaborasi bersama, khususnya Pemerintah, DPR, dan masyarakat, saya percaya perekonomian Indonesia dapat semakin kuat, yang mana sekarang didukung dengan masuknya Indonesia sebagai anggota tetap di BRICS,” pungkasnya.
