Rasulullah s.a.w., pernah bersabda, “melarang sahabatnya. jangan ada diantara kalian yang membawa keburukan, cerita terhadap sahabatku yang lain. Karena saya (Nabi) ingin bertemu dengan sahabatku dengan hati yang bersih.”
Kalau ada orang yang membawa berita yang membuat sakit hati, jika didengar maka ketemu dengannya dalam hatinya orang tersebut akan berbisik, “Ini yang kemarin. Enak saja baru kenal langsung berani fitnah aku.”
Kata Syekh Ali Jaber, “Ini kan bisikan qalbu dan itulah salah satu sebab terkuncinya hati kita. Maka pantas kehilangan khusu’. Karena ini perasaan, makanya tidak usah perduli (berita tidak baik).”
Orang yang ikhlas dipuji, diangkat, diagungkan, dimuliakan, dihina, dan dicaci-maki meresponnya sama saja. Dia tidak perduli nilai dan apa kata manusia.
Manusia senang dia tidak perduli, manusia tidak senang, apalagi, dia tidak perduli. Yang dia perdulikan hanya Allah S.W.T, yakni senang, suka, dan ridho-NYA.
Kalau kita hidup seperti ini, maka insyaAllah hati nurani akan baik dan selalu berbaik sangka kepada semua orang.
Oleh karena itu, jangan kita selalu berprasangka buruk jika melihat ada orang duduk-duduk. Mereka lagi ngapain ya. Jangan-jangan saya yang dibicarakan? Pusing kita kalau demikian.
Coba kalau kita perdulikan kata orang, kita dibuat pusing. Bukan mereka yang pusing.
Syekh Ali Jaber menyarankan pada kita agar jangan mendengarkan dan melihat caci maki orang. Hal ini karena perbuatan tersebut adalah dosa.
Kalaupun anda melihat ada temanmu yang suka ke masjid, tiba-tiba masuk ke tempat maksiat, jangan anda berburuk sangka. Hal ini karena kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin dia mencari kawan atau anaknya.