Hikmah  

Kunci Mendapatkan Ketenangan Hati dan Jiwa

Alm. Syekh Ali Jaber (Sumber: akun Twitter Syekh Ali Jaber, 2016).

Bangkalan – Pandangan, pendengaran, dan mulut kita dijaga agar hidup kita tenang. Selain itu, agar kita terjaga dari perbuatan dosa.

Saran tersebut disampaikan Syekh Ali Jaber dalam taushiyahnya yang dilansir Madurapers dari Channel YouTube Kompilasi Taushiyah  yang diunggah pada 7 Oktober 2020.

Syekh Ali Jaber dalam taushiyahnya memgajak umat Islam agar menjaga pandangannya.

Banyak isu, gosip, dan fitnah di lingkungan kita. Jika ada berita yang membuat sakit hati jangan didengar!

Orang mukmin bersikap, hanya mendengar berita baik. Kalau berita tidak baik, tidak mendengarkannya!

Bilang kepada yang membawa berita, diam, saya tidak mau mendengar dan mengetahuinya!

Syekh Ali Jaber menceritakan pengalamannya pernah didatangi seseorang yang memberitahukan ke beliau tentang ustadz dan kiai tertentu yang sering menyebut nama beliau.

Beliau menjawab, “Diam, saya tidak mau mengetahuinya.”

Orang yang membawa berita tersebut, lalu berkata lagi, “Ana (saya) mau memberitahu supaya antum (kamu) berhati-hati kepada orang tersebut.”

Lalu dijawab lagi sama beliau, “Saya tidak perlu berhati-hati dengan manusia. Saya hanya harus berhati-hati kepada Allah S.W.T., supaya tidak disiksa dan istiqamah beribadah.”

BACA JUGA:  Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Jadi, kata Syekh Ali Jaber dalam taushiyahnya tidak usah didengarkan dan perdulikan hal tersebut agar supaya besok ketika ketemu semua orang dengan hati yang bersih, tidak ada satupun sakit hati kepada orang lain.

Siapapun dia. Apakah ustadz, pejabat, tetangga, dan sahabat, jika membawa berita tidak baik, maka jangan didengarkan.

Kalau kita mendengarkan fitnah, maka ketika ketemu mereka tidak mungkin hati kita bersih, meskipun kita bersalaman dengannya.

Rasulullah s.a.w., pernah bersabda, “melarang sahabatnya. jangan ada diantara kalian yang membawa keburukan, cerita terhadap sahabatku yang lain. Karena saya (Nabi) ingin bertemu dengan sahabatku dengan hati yang bersih.”

Kalau ada orang yang membawa berita yang membuat sakit hati, jika didengar maka ketemu dengannya dalam hatinya orang tersebut akan berbisik, “Ini yang kemarin. Enak saja baru kenal langsung berani fitnah aku.”

Kata Syekh Ali Jaber, “Ini kan bisikan qalbu dan itulah salah satu sebab terkuncinya hati kita. Maka pantas kehilangan khusu’. Karena ini perasaan, makanya tidak usah perduli (berita tidak baik).”

BACA JUGA:  Ini Alasan Anjing Diharamkan dalam Islam

Orang yang ikhlas dipuji, diangkat, diagungkan, dimuliakan, dihina, dan dicaci-maki meresponnya sama saja. Dia tidak perduli nilai dan apa kata manusia.

Manusia senang dia tidak perduli, manusia tidak senang, apalagi, dia tidak perduli. Yang dia perdulikan hanya Allah S.W.T, yakni senang, suka, dan ridho-NYA.

Kalau kita hidup seperti ini, maka insyaAllah hati nurani akan baik dan selalu berbaik sangka kepada semua orang.

Oleh karena itu, jangan kita selalu berprasangka buruk jika melihat ada orang duduk-duduk. Mereka lagi ngapain ya. Jangan-jangan saya yang dibicarakan? Pusing kita kalau demikian.

Coba kalau kita perdulikan kata orang, kita dibuat pusing. Bukan mereka yang pusing.

Syekh Ali Jaber menyarankan pada kita agar jangan mendengarkan dan melihat caci maki orang. Hal ini karena perbuatan tersebut adalah dosa.

Kalaupun anda melihat ada temanmu yang suka ke masjid, tiba-tiba masuk ke tempat maksiat, jangan anda berburuk sangka. Hal ini karena kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin dia mencari kawan atau anaknya.

BACA JUGA:  Jaga Mata Agar Tidak Celaka

Dengan demikian, kita jangan mendengarkan hoaks dan fitnah yang tidak ada dasarnya. Kalau kita mendengarkannya, maka kita bertambah buruk dan itu dosa yang akan dibawa sampai hari kiamat.

Syekh Ali Jaber memberi saran, “Hati-hatilah. Tutupi pendengaran dan lihatlah di tempat kebaikan (masjid), majlis taklim, dan Al-Qur’an! Agar supaya Allah S.W.T., selalu membersihkan pandangan kita dari segala hal yang tidak disengaja, melihat yang tidak baik, dihapus dosanya.”

Makanya ada seorang ulama berkata, “Kalau hati saya mulai keras dan tertutup, maka saya perbanyak melihat (membaca) Al-Qur’an.”

Tinggalkan Balasan