Tanaman yang sudah terdaftar dalam Kepmentan No. 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian ini juga merupakan salah satu komoditas ekspor yang cukup banyak dikenal. India merupakan salah satu negara tujuan ekspor cabe jamu dari Indonesia dengan jumlah paling besar jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Dalam kurun waktu 2018–2022 volume ekspor cabe jamu Indonesia ke India rata-rata 1.500 ton dan tertinggi pada tahun 2021 yaitu mencapai hingga 2.000 ton.
Perlu diketahui cabe jamu sangat berbeda dengan cabe pada umumnya, seperti cabe rawit atau cabe besar. Meskipun sebutannya sama-sama cabe, namun penggunaannya tidaklah sama. Cabe jamu banyak digunakan sebagai bahan campuran rempah atau ramuan jamu herbal. Manfaat cabe jamu bagi kesehatan cukup banyak diakui oleh masyarakat. Kandungan yang terdapat pada cabe jamu seperti minyak atsiri, oleoresin, asam palmiat, zat pedas piperine yang dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan daya tahan tubuh manusia.
Salah satu olahan cabe jamu yang telah dilakukan oleh Nawari, yaitu dijadikan sebagai bahan campuran olahan kopi. Rasa dan aroma kopi yang dicampur dengan cabe jamu memberikan sensasi yang berbeda daripada seduhan kopi pada umumnya. Rasa hangat pada tubuh setelah mengkonsumsi kopi yang dicampur dengan cabe jamu ini membuat stamina kembali sehat dan bugar.
Perhatian pemerintah untuk komoditas ini tentu sangatlah dibutuhkan sebab melihat nilai potensi dan kemanfaatannya yang cukup tinggi seakan menjadi harta karun yang belum banyak ditemukan.
Berbeda dengan tanaman perkebunan lainnya, seperti tembakau yang juga menjadi tanaman yang banyak diminati oleh petani khususnya petani di Sumenep yang hingga dalam pemasarannya sudah diatur dalam perundang-undangan (perlindugan secara hukum), tanaman cabe jamu ini seakan eksistensinya masih tergolong rendah. Sehingga perlu sebuah pengkajian lebih mendalam tentang kelangsungan agribisnis komoditas cabe jamu ini dengan harapan kelestarian dan eksistensinya dapat tetap terjaga.