Sampang – Asap hitam itu memang telah lama menghilang. Bara yang melalap dapur rumah sederhana milik Riyati dan Bahri (80) di Dusun Tase’an, Desa Panggung, Kabupaten Sampang, juga telah padam. Namun, luka yang ditinggalkannya belum benar-benar sirna.
Bagi pasangan suami istri lanjut usia itu, kebakaran bukan hanya menghanguskan bangunan dapur. Musibah tersebut ikut membakar ruang hidup yang selama puluhan tahun menjadi tempat mereka bertahan menjalani hari-hari di usia senja.
Peristiwa itu terjadi beberapa pekan lalu. Diduga, api berasal dari korsleting listrik di bagian belakang dapur. Dalam hitungan menit, kobaran api membesar dan melalap bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu serta anyaman bambu yang sudah lapuk dimakan usia.
Saat kejadian, Riyati tengah menunaikan salat di mushala kecil yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka, ibadah yang sedang dijalankannya berubah menjadi kepanikan ketika teriakan warga memecah keheningan.
Api bergerak begitu cepat. Dapur yang selama ini menjadi tempat memasak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari tak mampu diselamatkan.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Bangunan dapur ambruk total dan kini tak lagi bisa digunakan.
Anwar, putra pasangan lansia itu, masih mengingat jelas bagaimana keluarganya berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya.
“Kami hanya bisa menyiram dengan ember dan alat yang ada. Tapi api sudah terlanjur membesar. Sekarang orang tua kami terpaksa memasak di luar rumah menggunakan peralatan seadanya,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (1/8/2026).
Kini, aktivitas memasak dilakukan di ruang terbuka dengan perlengkapan yang sangat terbatas. Di bawah terik matahari atau saat hujan turun, pasangan lansia itu tetap harus bertahan menjalani rutinitas demi sekadar menyiapkan makanan.
Di usia yang tak lagi muda, beban hidup mereka semakin berat
Bahri mengaku sudah tidak lagi memiliki kemampuan bekerja. Usia yang menginjak 80 tahun membuat tenaganya tak lagi kuat. Kondisi istrinya pun memprihatinkan. Riyati menderita gangguan pada bagian punggung yang telah lama diderita sehingga berjalan pun harus dilakukan perlahan sambil menahan rasa sakit.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka lebih banyak bergantung pada bantuan anak, keluarga, dan tetangga sekitar.
Di balik wajah renta itu, tersimpan harapan sederhana
Bahri berharap ada perhatian dari pemerintah maupun para dermawan agar keluarganya dapat kembali memiliki dapur yang layak.
“Saya hanya bisa pasrah dan berdoa. Semoga ada bantuan dari pemerintah atau siapa pun yang peduli. Kami sudah tidak sanggup bekerja lagi,” ucap Bahri dengan suara lirih.
Musibah yang menimpa pasangan lansia tersebut menjadi potret nyata masih adanya warga yang hidup dalam keterbatasan dan rentan ketika bencana datang. Bagi mereka, kehilangan dapur bukan sekadar kehilangan bangunan, melainkan hilangnya ruang untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari.
Di tengah berbagai pembangunan yang terus berjalan, kisah Riyati dan Bahri menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang menunggu uluran tangan agar dapat kembali hidup dengan lebih layak.
