Tiga negara terbesar pemasok barang impor nonmigas adalah:
- Tiongkok dengan nilai US$7,29 miliar (40,65 persen).
- Jepang sebesar US$1,34 miliar (7,48 persen).
- Australia senilai US$0,87 miliar (4,84 persen).
Impor nonmigas dari kawasan ASEAN mencapai US$2,70 miliar (15,08 persen), sedangkan dari Uni Eropa tercatat US$1,14 miliar (6,38 persen).
Selama periode Januari–Desember 2024, seluruh kategori barang impor menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya:
- Bahan baku/penolong naik US$8,52 miliar (5,29 persen).
- Barang modal meningkat US$2,09 miliar (5,34 persen).
- Barang konsumsi bertambah US$1,16 miliar (5,37 persen).
Meski impor meningkat, neraca perdagangan Indonesia Desember 2024 mencatat surplus US$2,24 miliar. Surplus ini didukung sektor nonmigas yang menyumbang US$4,00 miliar, meskipun sektor migas mengalami defisit sebesar US$1,76 miliar.
Kenaikan impor mencerminkan aktivitas ekonomi yang menggeliat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan bahan baku dan modal untuk mendorong industri domestik. Namun, defisit di sektor migas tetap menjadi tantangan yang perlu diatasi untuk menjaga keseimbangan perdagangan.
