Budaya  

Lebaran Ketupat: Tradisi Silaturahmi dan Makna Filosofis di Berbagai Daerah

Madurapers
Ilustrasi lebaran ketupat di tahun 1446 Hijriah/2025 Masehi di Indonesia
Ilustrasi lebaran ketupat di tahun 1446 Hijriah/2025 Masehi di Indonesia (Dok. Madurapers, 2025).

Tradisi ini, mengutip NU Online, dipercaya masyarakat Jawa awalnya diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Lebaran ini sebagai bentuk penyempurnaan ibadah puasa Ramadan.

Sesuai sunah nabi mengajarkan puasa sunah enam hari di bulan Syawal, yang kemudian oleh umat Islam di Indonesia disempurnakan dengan perayaan Lebaran Ketupat.

Seiring waktu, tradisi ini menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa. Murid-murid Wali Songo membawa kebiasaan ini ke wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, Lombok, dan Maluku, yang kemudian berkembang sesuai budaya setempat.

Di berbagai daerah, perayaan ini memiliki nama yang berbeda tetapi tetap mempertahankan esensi yang sama. Di Jawa dikenal sebagai Bada Kupat atau Kupatan, Lombok disebut Lebaran Topat, Madura dikenal sebagai Telassan Topa’, dan Betawi masih disebut Lebaran Ketupat meskipun kini sudah jarang dirayakan.

Masyarakat merayakan Lebaran Ketupat dengan menggelar berbagai acara, seperti kenduri, doa bersama, dan pembagian ketupat kepada tetangga. Tradisi ini memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dalam masyarakat Indonesia.