Di balik tirai sejarah yang lembut mengalir, tersembunyi tokoh-tokoh besar yang mengukir jejak tak terhapuskan dalam medan pemikiran manusia. Di antara mereka, terdapat seorang filsuf, revolusioner, dan teoritikus politik yang kehadirannya menyulut api kebebasan dan mengubah pola pikir generasi-generasi yang akan datang.
Dialah Mikhail Bakunin, sosok yang mengilhami gerakan anarkisme dengan pemikiran radikalnya, membangkitkan semangat perlawanan terhadap tirani, dan menyerukan untuk membebaskan manusia dari belenggu penindasan.
Mikhail Bakunin lahir pada tanggal 30 Mei 1814 di Prechistenskoye, Rusia. Dari masa kecilnya, Bakunin telah menunjukkan ketertarikan yang mendalam terhadap filsafat dan politik.
Dia belajar di Universitas Moskow dan kemudian bergabung dengan kelompok intelektual yang berpikiran maju di sana. Namun, puncak perjalanan intelektualnya dimulai ketika ia pergi ke Jerman dan bertemu dengan Hegel dan Marx.
Bakunin terkenal karena kritiknya terhadap negara dan kapitalisme. Pemikirannya yang revolusioner melahirkan konsep-konsep seperti “tanpa negara” dan “persatuan internasional para pekerja”. Dia menolak ide negara sebagai entitas yang harus dihapuskan untuk mencapai kebebasan sejati.
Menurutnya, negara adalah instrumen penindasan yang dikuasai oleh kelas borjuis, dan untuk membebaskan diri, rakyat harus menghancurkan negara dan menggantinya dengan federasi mandiri dari komunitas lokal yang berbasis pada prinsip-prinsip kebebasan dan kesetaraan.
Karya-karya Bakunin tidak hanya mencakup teori politik, tetapi juga menyoroti kondisi sosial yang mencekik masyarakat pada zamannya. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah “Diktatorisme Revolusioner”, di mana dia menguraikan strategi revolusioner yang radikal untuk menggulingkan pemerintah dan menggantinya dengan kekuasaan rakyat.