“Padahal di kawasan wisata religi Ampel tiap hari sepengetahuan kami selalu rutin dibersihkan oleh Satgas Kebersihan DKRTH Kota Surabaya,” bebernya.
Oleh karena itu, Japas menurut Soleh meminta DKRTH Kota Surabaya mengevaluasi mengenai kebersihan di Kota Surabaya. Minimal, tambah Sholeh yakni menjaga performa Kota Surabaya sebagai Kota Adipura.
“Jangan ada lagi alasan recofusing anggaran karena pandemi COVID-19. Ingat, kebersihan adalah sebagian dari iman,” pungkasnya.
madurapers.com, Selasa (21/12/2021) sekitar pukul 09.00 WIB melakukan uji informasi dari Japas yang menyebut kawasan wisata religi Ampel tampak kumuh dan kotor. Pada waktu itu sudah nampak keramaian dari pengunjung wisata religi Ampel dan para Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang Jalan Nyampunglan.
Wartawan media ini lantas menyusuri Jalan Nyamplungan dengan berjalan kaki sekitar dua kilometer. Memang masih banyak ditemukan sampah anorganik, diantaranya kantong plastik, botol plastik bekas air mineral, kaleng minuman bekas sampai puntung rokok.
Terdapat satu tumpukan sampah anorganik yang cukup menyita perhatian di depan pintu masuk makam Sunan Ampel di Jalan Nyamplungan. Bau tumpukan sampah tersebut juga cukup menyengat.
Selain itu, sepanjang Jalan Nyamplungan yang disusuri madurapers.com tidak ditemukan tempat sampah sama sekali. Beberapa petugas kebersihan berseragam juga tampak sedang menyapu di Jalan Nyamplungan.
Pemkot Surabaya, melalui Kabag Humas Febry Febriadhitya Prajatara sampai berita ini diterbitkan masih belum dapat dikonfirmasi mengenai penilaian Japas soal kebersihan Kota Surabaya di era Walikota Eri Cahyadi yang dinilai kumuh dan kotor. Dihubungi melalui sambungan pesan dan suara WA, Selasa (21/12/2021), Febry, sapaan akrabnya, masih belum membalas, meski ponselnya aktif.