Jakarta – Insiden penembakan di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Selasa (2/5/2023) telah menimbulkan berbagai asumsi dan pertanyaan dari sejumlah pihak, Jumat (5/5/2023).
Melihat kecemasan dan kondisi tersebut, mengutip MUIDigital, MUI mengadakan pertemuan bersama sejumlah tokoh ormas untuk memberikan keterangan terkait kronologi kejadian dan perkembangan penanganan kasus.
Pertemuan tersebut berlangsung di Kantor MUI Pusat, Jl. Proklamasi 51, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (4/5/2023) kemarin.
“Iya sebenarnya memenuhi permintaan para tokoh-tokoh ormas yang terus bertanya kejadian dan perkembangan kasus yang menimpa MUI,” kata Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis pada Kamis (4/5/2023).
Dalam forum bersama ormas itu, MUI menyatakan sikap pascaaksi penembakan. Di satu sisi, kata Kiai Cholil, MUI menganggap hal tersebut sebagai musibah dari Allah S.W.T.
Di satu sisi juga, MUI membentuk tim khusus untuk menyelesaikan dua hal. Pertama, dalam penyelesaian mekanisme tempuh hukum. Kedua, sisi sosial untuk terus menjaga spirit dakwah bagi umat.
“Iya tetap kita di jalan kebenaran, semangat berdakwah, dan juga senantiasa memberikan ruang terbaik untuk bangsa dan negara,” kata dia.
Menurut Kiai Cholil, sejumlah tokoh ormas yang hadir dalam pertemuan tersebut ikut cemas sendiri dengan aksi teror yang terjadi di Kantor MUI.
Dari kejadian itu, mereka meminta peningkatan eskalasi keamanan dan penjagaan ke depan.
Para tokoh yang hadir memberikan sejumlah saran agar keamanan di MUI perlu melibatkan kemanan digital, seperti detector cyber atau cyber security.
“Iya tetap MUI menjadi rumah bersama, mercusuar bagi ormas. Keamanan yang ketat tidak menghilangkan rasa nyaman dan akses yang mudah sebagai rumah bersama,” ujarnya.