Dalam bidang epistemologi, pandangannya menantang pandangan tradisional tentang kebenaran yang bersifat objektif dan absolut. Ini membuka jalan bagi perkembangan aliran-aliran filsafat yang menekankan pada subjektivitas dan relativisme, seperti sofisme.
Dalam politik, konsep “manusia adalah makhluk politik” ia memberikan dasar filosofis bagi pemikiran demokratis di Yunani Kuno. Pandangan ini menekankan pentingnya partisipasi politik dan pemerintahan oleh rakyat.
Pengaruh Protagoras juga terlihat dalam perkembangan retorika sebagai disiplin ilmu. Keterampilan berbicara yang diajarkannya membantu memperkuat kemampuan politik dan persuasif warga Athena, yang pada gilirannya memengaruhi dinamika politik di kota tersebut.
Meskipun ia hidup pada masa lebih dari dua ribu tahun yang lalu, pemikirannya masih memiliki relevansi dalam konteks modern. Konsep relativisme yang diperkenalkannya mengundang refleksi tentang sifat pengetahuan dan kebenaran dalam dunia yang semakin kompleks dan beragam.
Selain itu, pandangannya tentang pentingnya retorika dalam kehidupan politik juga masih relevan hari ini. Di tengah arus informasi yang besar dan persaingan politik yang semakin sengit, keterampilan berbicara yang persuasif menjadi semakin penting bagi para pemimpin dan pengambil keputusan.
Dengan demikian, meskipun Protagoras telah tiada selama berabad-abad, warisannya tetap hidup dalam pemikiran dan praktik manusia saat ini. Sebagai salah satu tokoh sentral dalam sejarah filsafat Yunani, kontribusinya terus dihargai dan dipelajari oleh para pemikir dan akademisi di seluruh dunia.
