Judulnya yang mencolok menjadi daya tarik awal yang mengundang penasaran. Namun, isi puisinyalah yang akhirnya mengguncang batin audiens dan meninggalkan kesan mendalam.
Saat ditemui usai penyerahan penghargaan, sang penulis mengungkapkan proses panjang penciptaan karyanya. Ia menjelaskan bahwa puisinya lahir dari kegelisahan terhadap relasi cinta yang sering disalahpahami.
Baginya, cinta bukan sekadar perasaan manis, tetapi bisa menjadi alat dominasi dan kontrol yang berbahaya. Pandangan itu ia sampaikan dengan penuh perenungan dan kepekaan sosial yang kuat.
Kemenangan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Madura dan dunia sastra Indonesia. Puisi tersebut membuktikan bahwa sastra masih punya daya dobrak untuk mengubah cara pandang masyarakat.
Karya ini menjadi bukti bahwa puisi tetap relevan sebagai medium refleksi, kritik, dan harapan. Di tengah dunia yang penuh kebisingan, suara dari puisi ini menjadi napas yang menenangkan dan menggugah.
