19 Hari Menuju Deadline, Proyek Sekolah Rakyat di Sampang Masih 73 Persen

Avatar
Kondisi Proyek Pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Sampang
Kondisi Proyek Pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Sampang (Sumber Foto: Agus Junaidi/Madura Pers, 2026).

Sampang – Proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Sampang yang menjadi bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) terancam tidak selesai tepat waktu. Hingga awal Juni 2026, progres fisik proyek bernilai ratusan miliar rupiah itu baru mencapai 73 persen, sementara masa pelaksanaan tinggal menyisakan sekitar 19 hari kalender.

Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar terkait kesiapan pemerintah mewujudkan target operasional Sekolah Rakyat pada tahun ajaran baru Juli 2026.

Padahal, proyek yang dibangun di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, itu merupakan bagian dari pembangunan Sekolah Rakyat Provinsi Jawa Timur yang didanai melalui APBN dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp1,16 triliun untuk lima kabupaten/kota.

Berdasarkan papan proyek yang terpasang di lokasi, pekerjaan dilaksanakan oleh Waskita–CAG KSO melalui kontrak Nomor 560/SPK/Gs19.2/2025 dengan masa pelaksanaan selama 240 hari kalender dan masa pemeliharaan 360 hari kalender.

Pantauan di lapangan, Senin (1/6/2026), aktivitas konstruksi masih berlangsung di berbagai titik. Sejumlah pekerja tampak melakukan pengecoran menggunakan crane pada struktur utama bangunan. Di sisi lain, pekerjaan plengsengan di kawasan barat proyek juga masih terlihat belum rampung.

Fakta di lapangan menunjukkan proyek belum memasuki tahap akhir sebagaimana lazimnya pekerjaan yang mendekati tenggat waktu penyelesaian. Sejumlah gedung utama, termasuk ruang belajar, masih berada pada tahap struktur atas.

Project Manager Sekolah Rakyat Sampang dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Dimas Reza, mengakui progres pembangunan saat ini baru mencapai 73 persen.

“Sampai hari ini progresnya sudah 73 persen,” ujar Dimas kepada wartawan.

Menurutnya, pembangunan dimulai sejak November 2025 dan ditargetkan selesai pada 20 Juni 2026. Meski demikian, pihak kontraktor tetap optimistis sebagian fasilitas utama dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar pada Juli mendatang.

“Di Sampang dananya kurang lebih sekitar Rp170 miliar hingga Rp200 miliar dan ditargetkan selesai akhir Juni. Sehingga bulan Juli sudah ada kelas yang bisa digunakan,” katanya.

Sekolah Rakyat Sampang dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu yang mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA dengan kapasitas sekitar 1.000 siswa.

Fasilitas yang dibangun meliputi ruang kelas, asrama putra-putri, rumah susun guru, masjid, kantin, gedung serbaguna, lapangan upacara, lapangan sepak bola, hingga lapangan basket.

Dimas menjelaskan, beberapa fasilitas penunjang telah selesai dibangun, di antaranya asrama siswa SMP dan SMA, kantin, lapangan sepak bola, serta akses kawasan. Namun, pembangunan gedung sekolah sebagai fasilitas inti masih belum rampung.

“Sejumlah pekerjaan yang sudah selesai meliputi asrama putra-putri SMP dan SMA, kantin, lapangan bola, dan akses kawasan. Sedangkan untuk gedung sekolah masih tahap struktur atas,” jelasnya.

Untuk mengejar target, kontraktor melakukan percepatan pekerjaan dengan mengerahkan 1.015 pekerja dan menerapkan sistem lembur hingga larut malam.

“Saat ini kita kerja lembur sampai jam 12 malam, bahkan pengecoran sampai pukul 02.00 dini hari. Prinsipnya, kita tetap berupaya agar seluruh pekerjaan selesai tepat waktu,” tegas Dimas.

Meski upaya percepatan dilakukan, publik tetap menyoroti kesenjangan antara capaian fisik proyek dan waktu pelaksanaan yang tersisa.

Dengan progres baru menyentuh 73 persen dan tenggat yang semakin dekat, proyek Sekolah Rakyat Sampang kini berada dalam tekanan besar untuk membuktikan bahwa target operasional Juli 2026 bukan sekadar optimisme di atas kertas.