Selain itu, kue apem juga sering disajikan dalam acara yasinan dan tahlilan, yang merupakan bagian dari ritual kematian dalam tradisi Islam Jawa. Kehadirannya melambangkan doa dan harapan agar arwah yang meninggal mendapatkan ampunan.
Di Madura, kue apem menjadi salah satu syarat dalam sesajen pada tradisi Dhammong. Hal ini menunjukkan betapa kue apem memiliki nilai sakral dan penting dalam berbagai ritual adat.
Pada masa penyebaran Islam di Jawa, kue apem digunakan sebagai media dakwah oleh para wali. Mereka memanfaatkan kue ini untuk mengajarkan nilai-nilai keagamaan dan moral kepada masyarakat.
Kue apem juga menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong. Proses pembuatannya yang melibatkan banyak orang mencerminkan nilai-nilai sosial yang kuat dalam masyarakat Jawa.
Hingga kini, kue apem tetap lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa. Kehadirannya dalam berbagai acara adat dan keagamaan menunjukkan betapa kue ini memiliki makna yang dalam dan kaya akan nilai-nilai budaya.
