Selain orasi, massa AMJM juga menggelar salat gaib dan tahlil untuk mendoakan demokrasi desa yang mereka anggap telah mati.
Asap dari keranda yang terbakar mengepul, seakan menjadi saksi bisu atas kekecewaan masyarakat Jrengik yang selama ini terpendam.
Di tengah aksi, Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sampang, Sudarmanta, keluar menemui massa aksi.
Ia berusaha menjelaskan bahwa pelaksanaan Pilkades masih menunggu Peraturan Pemerintah (PP) terbaru sebagai turunan dari Undang-Undang Desa 2024.
Namun, jawaban Sudarmanta justru memicu amarah Rofi. “Kami bosan menunggu! Empat tahun kalian hanya janji-janji! Hari ini kami datang membawa suara rakyat yang selama ini kalian abaikan!” tegas Rofi, suaranya bergetar penuh emosi.
Aksi yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB itu akhirnya berakhir sekitar pukul 10.30 WIB.
Sebelum massa membubarkan diri, Rofi mengancam akan kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
“Ini belum selesai. Jika Pemkab Sampang tetap berdiam diri, kami akan turun lagi! Lebih besar, lebih masif!” serunya lantang sebelum meninggalkan lokasi aksi.
