Peran Castro dalam gerakan anti-imperialisme menjadikannya panutan di kalangan pemimpin dunia ketiga. Solidaritas lintas benua ini memperkuat posisi Kuba sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi global.
Namun, tidak sedikit kritik yang mengarah pada pemerintahannya yang otoriter. Banyak pihak menyoroti pembatasan kebebasan politik, media, serta pelanggaran hak asasi manusia selama ia berkuasa.
Kebijakan ekonomi yang sentralistik juga dianggap menyumbang pada stagnasi dan keterbelakangan struktural. Reformasi yang lamban dinilai menjadi hambatan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Kuba.
Meski banyak kontroversi, Castro tetap dihormati oleh pendukungnya sebagai pejuang yang konsisten. Mereka melihatnya sebagai tokoh yang mengutamakan martabat nasional di atas kompromi politik internasional.
Fidel Castro wafat pada 25 November 2016 di Havana, ibu kota Kuba. Kepergiannya menandai akhir era kepemimpinan yang penuh perjuangan dan kontroversi di negaranya.
Namanya terus hidup dalam narasi perjuangan sosial di berbagai belahan dunia. Castro menjadi referensi ideologis bagi gerakan yang melawan eksploitasi dan penindasan.
Semangatnya untuk membela rakyat kecil dan menolak intervensi asing terus menginspirasi generasi baru. Banyak aktivis mengutip visinya dalam membangun masyarakat yang berdaulat dan berkeadilan.
Fidel Castro bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol keberanian dalam menantang status quo. Jejak langkahnya membuktikan bahwa revolusi sejati adalah tentang keberpihakan, pengorbanan, dan keteguhan hati.
