Namun beruntung, persaingan ibu mereka tidak berujung pada percekcokan mulut atau pertengkaran fisik yang memalukan. Keduanya hanya saling mempertandingkan gengsi dan harga diri secara diam-diam, sembari berbalas senyuman dan bertegur sapa secara hangat kala bertemu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Untungnya lagi, persaingan itu tidak membuat Dino dan Leon larut mempertarungkan diri. Pasalnya, mereka berteman baik, bahkan berdampingan bangku di dalam kelas. Karena itu, mereka sama sekali tidak merisaukan perihal peringkat nilai rapor. Mereka terus saja berkawan sembari tampil seolah-olah bersaing di hadapan ibu mereka masing-masing.
Atas persahabatan mereka pula, menjelang ujian semester yang lalu, Dino dan Leon mendiskusikan persaingan ibu mereka atas peringkat nilai dirinya. Hingga akhirnya, setelah Dino mengungkapkan keinginannya untuk memiliki sepeda, dan itu hanya bisa terwujud kalau dirinya memenuhi persyaratan nilai dari ibunya, Leon pun iba dan bersedia membantu.
Demi rencana itu, pada saat ulangan mata pelajaran matematika dan pengetahuan alam, Leon pun memberikan sontekan kepada Dino. Dengan sikap hati-hati, Dino lantas menyalin jawaban Leon untuk soal yang tidak mampu ia jawab sendiri. Dan untungnya, sepanjang aksi tersebut, mereka lolos dari pemantauan guru pengawas.
Sampai akhirnya, saat pengambilan rapor, Dino dan Leon mendapati kenyataan yang tidak mereka duga-duga. Nilai rata-rata Dino ternyata lebih tinggi daripada Leon. Ia pun menduduki peringkat empat, sedangkan Leon jatuh ke peringkat enam. Tetapi itu jelas bukan persoalan bagi mereka yang merasa telah berhasil menunaikan rencana rahasia.