Dampak penurunan ini sangat terasa bagi pelaku usaha perhotelan lokal. Mereka harus menghadapi realitas menurunnya permintaan dan meningkatnya risiko kerugian.
Sampang seolah kehilangan momentum dalam memanfaatkan potensi wisatanya. Angka-angka ini mencerminkan rendahnya produktivitas usaha jasa akomodasi yang seharusnya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Daya saing sektor pariwisata tampaknya belum mampu menyaingi daerah lain di Madura maupun Jawa Timur. Upaya promosi dan peningkatan kualitas layanan menjadi kebutuhan mendesak.
Selain itu, koordinasi antara pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata perlu diperkuat. Tanpa strategi terpadu, angka TPK dan RLMT hotel berpotensi terus merosot dalam waktu mendatang.
Perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengembangan sektor wisata di Kabupaten Sampang. Kebijakan yang tidak tepat sasaran hanya akan memperburuk kondisi industri perhotelan lokal.
