Bangkalan – Nahdlatul Ulama (NU) resmi menutup rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) NU yang digelar di Kampus Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan. Acara penutupan tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, jajaran pemerintah pusat, serta Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Hadir dalam kegiatan tersebut Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Bahlil Lahadalia, Saifullah Yusuf, Teddy Indra Wijaya, Khofifah Indar Parawangsa serta jajaran pemerintah daerah dan para pengurus PBNU. Penutupan Munas NU menjadi bagian dari rangkaian agenda organisasi sebelum menuju tahapan Muktamar PBNU.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa pelaksanaan Munas dan Konbes NU merupakan momentum penting bagi perjalanan organisasi.
“Munas NU ini adalah kebahagiaan kami, setelah melaksanakan Munas dan Konbes NU, sebagai bagian dari rangkaian Muktamar PBNU,” ujar Gus Yahya.
Sementara itu, Gus Yahya Cholil Staquf dalam kesempatan tersebut menyampaikan optimisme terhadap perjalanan NU ke depan.
“Dengan izin Allah, kita akan menang,” ungkap Gus Yahya.
Dalam rangkaian sambutan, Rais Aam PBNU menyampaikan penghormatan kepada para tamu undangan dan menegaskan posisi NU dalam menjaga hubungan antara agama dan negara. Ia menyampaikan bahwa NU akan terus mendukung pemerintah selama kebijakan yang dijalankan tidak bertentangan dengan nilai agama.
“Pemerintah jika tidak membawa kefasikan dan kemaksiatan maka NU akan selalu mendukung,” ujarnya.
Ia juga menyinggung adanya upaya dan langkah strategis dalam menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi organisasi maupun bangsa.
“Mungkin masih ada senjata pamungkas untuk menghadapi masalah ini,” tambahnya.
Acara penutupan Munas NU kemudian diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh K.H Anwar Iskandar.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan dengan menyoroti peran besar NU dalam perjalanan bangsa Indonesia. Ia menyebut NU sebagai organisasi yang memiliki pengaruh luas dan selalu hadir dalam berbagai dinamika nasional.
“NU memang hebat, selalu berada di mana-mana. Jadi NU tidak pernah kalah,” kata Prabowo.
Presiden juga menyampaikan pandangannya mengenai pengalaman politik NU yang menurutnya dapat menjadi pembelajaran bagi banyak pihak.
“Kalau mau belajar politik seharusnya dari NU,” ujarnya.
Prabowo turut menyinggung kebijakan pemerintah terkait harga bahan bakar minyak (BBM) dalam suasana dialog dengan peserta.
“Kok tepuk tangan, apakah gara-gara BBM nggak naik? Yang bikin nggak naik Presiden,” katanya disambut respons peserta.
Ia juga menegaskan karakter NU sebagai organisasi yang tidak hanya berbasis keagamaan, tetapi juga memiliki nilai kebangsaan.
“Organisasi NU adalah organisasi agamis, tapi nasionalis dan patriotis,” jelasnya.
Dalam sambutannya, Presiden turut menyampaikan pesan tentang kepatuhan terhadap pemimpin dalam konteks yang berbeda.
“Kalau di NU patuh ke ulama, kalau di istana patuh sama saya,” ujar Prabowo.
Penutupan Munas NU di Bangkalan ini menjadi salah satu agenda penting organisasi dalam memperkuat konsolidasi internal sekaligus mempertegas peran NU dalam kehidupan keagamaan, sosial, dan kebangsaan Indonesia.
