Meskipun terjadi penurunan nilai tukar rupiah, data fundamental makroekonomi menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih mencatat surplus transaksi berjalan dan defisit anggaran sekitar 1,7% dari PDB.
Hal ini memberikan indikasi bahwa nilai tukar rupiah memiliki potensi untuk kembali stabil setelah ketidakpastian politik mereda.
Dengan pemilihan umum yang semakin dekat, kekhawatiran terkait stabilitas politik dan fiskal semakin meningkat. Belum jelas apakah akan terjadi perombakan kabinet, namun hal ini dapat membawa dampak signifikan terhadap sentimen pasar.
Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ini dengan cermat, terutama hasil-hasil pemilu yang dijadwalkan pada tanggal 14 Februari 2024.
Perubahan besar dalam sikap tanggung jawab fiskal dan stabilitas neraca eksternal dapat menjadi pemicu perubahan lebih lanjut dalam nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia diharapkan untuk tetap aktif dalam menjaga stabilitas mata uang rupiah dalam waktu dekat.
Dengan adanya ketidakpastian politik dan ekonomi, para pelaku pasar diharapkan untuk bersiap menghadapi volatilitas yang mungkin terus berlanjut hingga situasi politik dan fiskal menjadi lebih jelas.
