Lévi-Strauss memperluas konsep strukturalisme ke dalam studi tentang budaya dan masyarakat. Ia percaya bahwa struktur-struktur yang tersembunyi di balik mitos, cerita, dan praktik budaya dapat diungkap melalui analisis komparatif. Dengan membandingkan pola-pola dalam berbagai budaya, ia berargumen bahwa ada struktur-struktur universal yang mendasari kehidupan manusia.
Dalam praktiknya, strukturalisme bekerja dengan mencoba untuk mengidentifikasi pola-pola atau struktur-struktur yang mendasari fenomena yang diamati. Ini dapat dilakukan melalui analisis bahasa, analisis naratif, atau analisis sistematis lainnya, tergantung pada bidang kajian yang sedang diteliti.
Sebagai contoh, dalam studi sastra, seorang strukturalis mungkin akan mencoba untuk mengidentifikasi motif-motif atau pola-pola tematik yang berulang dalam sebuah karya sastra. Mereka mungkin juga akan menganalisis struktur naratif dan hubungan antara karakter-karakter dalam cerita untuk mencari pola-pola yang mendasari.
Meskipun memiliki pengaruh yang besar dalam berbagai disiplin ilmu, strukturalisme juga mendapat kritik dari berbagai pihak. Salah satu kritik utama terhadap strukturalisme adalah bahwa pendekatannya terlalu abstrak dan seringkali mengabaikan konteks sejarah dan sosial di mana fenomena itu muncul. Beberapa kritikus juga menganggap bahwa strukturalisme terlalu deterministik dalam pandangannya terhadap manusia, sehingga mengurangi peran agensi atau kebebasan individu.
Meskipun kini telah muncul pendekatan-pendekatan baru dalam filsafat dan ilmu sosial, seperti post-strukturalisme dan postmodernisme, strukturalisme tetap memiliki relevansi dalam pemikiran kontemporer.
Konsep-konsep yang dikembangkan oleh strukturalis, seperti penekanan pada struktur dan pola-pola, masih digunakan dalam berbagai bidang, terutama dalam analisis pada budaya populer, media, dan politik.
