Makassar – Sejak lama ulama telah menjadi rujukan para umat untuk mendapatkan ilmu agama, oleh karena ulama adalah pewaris para nabi.
Orang-orang yang berilmu itu, mengutip MUI, memiliki keistimewaan tersendiri, dan hal tersebut telah dijelaskan di dalam Al-Qur’anul Karim.
Firman Allah di dalam Al-Qur’an dengan nada pertanyaan yang artinya adalah: ”Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu”, maka sudah menjadi ketentuan bahwa orang-orang yang berilmu itu adalah orang-orang pilihan Allah.
Bahkan Nabi-pun pernah bersabda yang artinya: Apabila Allah menginginkan hambanya baik maka ia diberikan pemahaman agama. Bahkan bukan pun hanya sekedar ilmu, namun juga dibarengi dengan amal yang baik.
Ulama telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengajarkan agama, sehingga ulama itu di samping ia mengaji, ia juga mengikuti proses belajar mengajar ngaji.
Oleh karenanya ulama senantiasa membentuk sebuah pengajian untuk memberikan ceramah-ceramah dan pemahaman agama, walaupun mereka tidak mendapatkan imbalan.
Sebuah masyarakat akan menjadi Khairu Ummah apabila di tengah-tengahnya ada seorang ulama, sebagai tempat untuk bertanya atau rujukan dalam hal perkara-perkara agama.
Begitupun sebaliknya, apabila ulama tidak diperhatikan dan diabaikan, maka akan muncul-lah berbagai macam persoalan di masyarakat.