Tahun baru selalu identik dengan kemeriahan: kembang api yang menghiasi langit, suara terompet bersahutan, dan gelak tawa bersama keluarga atau sahabat. Di berbagai sudut kota di Indonesia, pesta tahun baru berlangsung megah, dengan gemerlap lampu, konser musik, dan momen hitung mundur yang dinanti banyak orang.
Namun, di balik gegap gempita itu tak semua orang memiliki kesempatan untuk menikmati perayaan tahun baru 2025. Terutama bagi mereka yang hidup di garis kemiskinan yang mencapai 25,22 juta jiwa, tahun baru hanya terasa sebagai pergantian hari tanpa makna istimewa.
Bagi sebagian besar masyarakat yang berkecukupan, momen pergantian tahun adalah waktu untuk bersyukur dan menikmati hasil kerja keras sepanjang tahun. Namun, bagi kaum miskin, tahun baru sering kali menjadi pengingat pahit tentang realitas hidup yang keras.
Jangankan merencanakan pesta atau membeli kembang api, mereka justru sibuk memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup. Dalam gelapnya malam yang penuh bintang, banyak dari mereka yang hanya bisa memandang ke langit sambil berdoa agar tahun yang baru membawa harapan baru.
Di jalanan kota besar, anak-anak kecil yang hidup tanpa tempat tinggal hanya bisa menatap dari kejauhan kembang api yang menghiasi langit. Mereka tidak punya terompet, tidak ada meja penuh makanan lezat, dan tentu tidak ada pakaian baru.
Mereka tidur di sudut-sudut trotoar yang dingin, mencoba melupakan perayaan yang terasa jauh dari jangkauan. Mungkin, suara-suara meriah di sekitar hanya menjadi pengingat tentang apa yang tidak mereka miliki: rasa aman, kenyamanan, dan kemewahan untuk merayakan.