Babak kedua berubah jadi pertunjukan tunggal Joao Pedro, dan ia tak butuh waktu lama untuk mengguncang stadion lagi. Menit ke-56, ia melewati Ignacio sebelum menembak keras ke mistar dalam—gol yang bahkan lebih indah dari yang pertama.
Joao Pedro tak merayakan gol keduanya dengan euforia, malah menunjukkan gestur maaf kepada mantan klubnya, menandakan konflik emosional di balik kemenangan brutal itu. Tapi simpati tak menghapus fakta bahwa ia menghancurkan harapan tim masa kecilnya.
Chelsea sempat punya peluang menambah keunggulan lewat Nkunku dan Jackson, tetapi kurang klinis di penyelesaian akhir. Namun dominasi mereka sudah cukup untuk menutup pertandingan dan mengantongi tiket final.
Kini, Enzo Maresca dan skuadnya hanya berjarak satu laga dari gelar dunia, menunggu hasil duel antara Real Madrid dan Paris Saint-Germain. Dan dengan Joao Pedro dalam performa seperti ini, siapa pun lawannya patut waspada.
