Opini  

Menakar Relevansi Gagasan Ketum PB PMII tentang Paradigma Kritis, Transformatif dan Produktif

Samsul Hadi, Kader PMII Sekolah Tinggi Ilmu Ushuludin Darussalam (STIUDA)

Potensi Perguruan Tinggi Swasta

Kader PMII tersebar di berbagai Perguruan Tinggi (PT) di seluruh Indonesia, baik itu kampus negeri ataupun swasta. Demikian pula di kabupaten Bangkalan yang memang kebanyakan kampus swasta. Perguruan tinggi swasta yang dimaksud dalam tulisan ini secara spesifik diartikan sebagai PT yang berdiri di bawah naungan pondok pesantren. Hal ini merupakan suatu respon progresif suatu lembaga keagamaan tradisionalis yang kemudian berbondong-bondong mendirikan suatu PT sebagai upaya mencetak suatu generasi yang unggul.

Perguruan tinggi yang berdiri di bawah naungan pesantren memiliki persoalan yang kompleks. Sebab, suatu budaya kampus yang terkadang tidak kondusif dan melampaui batas etika menjadi suatu problem bagi pesantren yang menjunjung tinggi moralitas. Secara realitas nampaknya dua lembaga (Kampus dan Pesantren) bagaikan minyak dan air yang tidak bisa dipertemukan. Selain itu, persoalan lainya adalah kelengkapan fasilitas dan keterbatasan kesempatan.

Adapun Mahasantri (Mahasiswa sekaligus Santri dalam definisi penulis) yang ada di Kabupaten Bangkalan didominasi kader PMII, tanpa menutup kemungkinan banyak pula kader organisasi lainnya, yang secara kultur dan budaya yang sangat kontras dengan mahasiswa pada umumnya. Maka, kondisi yang seperti ini menuntut suatu solusi yang berbeda serta objektif.

Sebagaimana penulis sebutkan di bagian sebelumnya, PMII Cabang Bangkalan mengartikan PKT secara spesifik dalam aspek sosial dan politik. Bilamana melihat suatu kesenangan sosial, ketidakadilan, penindasan rakyat bawah, maka mau bagai manapun harus turun ke jalan.

Tinggalkan Balasan

error:

Eksplorasi konten lain dari Madurapers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca