Opini  

Menakar Relevansi Gagasan Ketum PB PMII tentang Paradigma Kritis, Transformatif dan Produktif

Madurapers
Samsul Hadi, Kader PMII Sekolah Tinggi Ilmu Ushuludin Darussalam (STIUDA)

Paradigma adalah suatu yang sangat amat esensial dalam suatu organisasi. Paradigma merupakan pola pikir atau cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas atau organisasi, tidak terkecuali PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Sebagai Kader atau Anggota PMII, sudah akrab dengan istilah Paradigma Kritis Transformatif (PKT) yang sejak jenjang kaderisasi pertama dalam PMII, yaitu Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) diajarkan dan ditanamkan. Tentu, untuk menjelaskan PKT butuh waktu panjang dan banyak ruang. Sederhananya, PKT adalah kader PMII harus kritis terhadap suatu hal, lalu membuat perubahan pada situasi yang lebih baik.

Pengertian ini akan lebih tepat sasaran saat ditarik terhadap konteks Bangkalan, secara spesifik PKT mempunyai suatu kepekaan kondisi sosial yang tertindas, kemudian dikritisi dan membuat suatu gerakan transformatif, minimalnya dalam bentuk demonstrasi.

Apakah pengertian semacam ini salah? Tentu tidak. Sebab, secara garis besar gerakan seperti disebut merupakan bagian dari implementasi PKT. Akan tetapi bilamana disebut satu-satunya representasi PKT, maka tidak benar juga. Banyak ruang atau aspek terkait pola implementasi PKT. Sampel di atas hanya sebagian kecil saja.

Seyogyanya, penulis tidak mempunyai kapasitas untuk menyampaikan apalagi mengkritisi terkait PKT tersebut. Hanya saja, penulis tertarik untuk mengobrol masalah relevansi PKT di era yang serba canggih ini. Apakah PKT masih layak pakai, harus diganti, dimodifikasi atau direkonstruksi ulang saja? Mari bahas bersama.

Obrolan ini sudah lama menjadi topik pembahasan dan hampir terlupakan, usang. Namun mulai nampak ke permukaan kembali menjelang Kongres PMII ke-20. Ada 16 calon Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PMII yang akan berkontestasi dalam Kongres tersebut. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, namun tetap dengan tujuan untuk mengabdikan diri terhadap PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang berhaluan Aswaja An-Nahdiyah serta bersanad muttashil.

Muhammad Abdullah Syukri yang pada saat itu merupakan salah satu calon Ketua Umum PB PMII yang kemudian Gus Abe, sapaan akrabnya terpilih sebagai Ketua Umum PB PMII 2021-2023 pada Kongres yang dilaksanakan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (25/3) dengan perolehan suara 130 dari 242 suara. 

Sekelas kontestasi tingkat Nasional, pastinya setiap calon membawa suatu konsep atau gagasan segar dan cemerlang untuk mewujudkan PMII kedepannya lebih baik. Gus Abe sebagai ketua umum terpilih memberikan sebuah tawaran untuk mengganti PKT dengan suatu paradigma yang lebih relevan dengan kondisi saat ini. Gus Abe menawarkan Paradigma Kritis, Transformatif dan Produktif.

Gus Abe yang saat ini mengasuh salah satu Pesantren di Cirebon, menyampaikan bahwa kritis dan transformatif saja di era 4.0 ini tidak cukup. Di era disrupsi ini persaingan yang serba cepat menuntut agar generasi saat ini mampu berkarya dan produktif sedangkan kunci hal itu adalah ilmu pengetahuan.

Realitas yang selama ini terjadi di tengah-tengah kader PMII hanya berdiskusi tentang segala bidang disiplin keilmuan, kebudayaan, pertanian, perekonomian dan sebagainya. Namun, selepas diskusi tidak ada tindak lanjut yang jelas atau suatu gerakan yang sifatnya berkelanjutan seperti adanya suatu karya, inovasi dan seterusnya. Hal ini yang kemudian menjadi batu sandungan kader PMII untuk bersaing.