Potensi Perguruan Tinggi Swasta
Kader PMII tersebar di berbagai Perguruan Tinggi (PT) di seluruh Indonesia, baik itu kampus negeri ataupun swasta. Demikian pula di kabupaten Bangkalan yang memang kebanyakan kampus swasta. Perguruan tinggi swasta yang dimaksud dalam tulisan ini secara spesifik diartikan sebagai PT yang berdiri di bawah naungan pondok pesantren. Hal ini merupakan suatu respon progresif suatu lembaga keagamaan tradisionalis yang kemudian berbondong-bondong mendirikan suatu PT sebagai upaya mencetak suatu generasi yang unggul.
Perguruan tinggi yang berdiri di bawah naungan pesantren memiliki persoalan yang kompleks. Sebab, suatu budaya kampus yang terkadang tidak kondusif dan melampaui batas etika menjadi suatu problem bagi pesantren yang menjunjung tinggi moralitas. Secara realitas nampaknya dua lembaga (Kampus dan Pesantren) bagaikan minyak dan air yang tidak bisa dipertemukan. Selain itu, persoalan lainya adalah kelengkapan fasilitas dan keterbatasan kesempatan.
Adapun Mahasantri (Mahasiswa sekaligus Santri dalam definisi penulis) yang ada di Kabupaten Bangkalan didominasi kader PMII, tanpa menutup kemungkinan banyak pula kader organisasi lainnya, yang secara kultur dan budaya yang sangat kontras dengan mahasiswa pada umumnya. Maka, kondisi yang seperti ini menuntut suatu solusi yang berbeda serta objektif.
Sebagaimana penulis sebutkan di bagian sebelumnya, PMII Cabang Bangkalan mengartikan PKT secara spesifik dalam aspek sosial dan politik. Bilamana melihat suatu kesenangan sosial, ketidakadilan, penindasan rakyat bawah, maka mau bagai manapun harus turun ke jalan.
Hemat penulis, hal tersebut tidak sepenuhnya relevan apabila memperhatikan kultur dan budaya pesantren yang sangat mengakar. Tidak relevan bukan dalam arti menuduh salah bahwa sepenuhnya gerakan demonstrasi dinilai salah. Tidak. Namun, perlu adanya suatu terobosan baru yang lebih objektif atau sesuai dengan kondisi kader-kader PMII Bangkalan.
Menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) PMII Bangkalan tentu sangat diharapkan mampu memberikan suatu tawaran konsep atau gagasan yang segar dan relevan dengan kultur di Bangkalan yang sampai saat ini, hanya menjadi suatu harapan utopis. Belum didapati ketua cabang yang sepenuhnya memberikan suatu perhatian untuk mengembangkan PMII di kampus yang ada di naungan pesantren yang sejatinya merupakan potensi yang sangat luar biasa apabila diberdayakan dengan baik.
Sampai di sini, tawaran konsep paradigma kritis, tranformatif dan produktif oleh Gus Abe patut menjadi bahan pertimbangan. Bagaimana tidak, misalnya kader PMII Bangkalan diarahkan untuk berkarya dan berinovasi dalam segala bidang, kesenian, pertanian, perekonomian, pun dalam aspek lainnya. Misalkan salah satu komisariat PMII di Bangkalan mengembangkan pertanian menggunakan metode hidroponik sehingga hasilnya dapat menjadi income bagi komisariat masing-masing serta dapat mewujudkan kemandirian organisasi.
Ketua Cabang PMII Bangkalan dari tahun ke tahun berlatar belakang santri, demikian pula ketua PB PMII. Secara kapasitas dan kapabilitas tidak diragukan lagi, bahkan terkait kader PMII yang berstatus Mahasantri, tentu paham secara komprehensif tentang kultur dan budaya pesantren. Ini merupakan peluang bagi kader PMII untuk dikembangkan dan diberdayakan sesuai bidangnya masing-masing sehingga terwujud suatu organisasi yang berperadaban. Sekaligus ini menjadi harapan PMII Bangkalan kedepan.
