Namun, ia juga meluncurkan serangkaian program sosial ekonomi, seperti reformasi agraria, pembangunan infrastruktur, dan program pekerjaan publik, yang bertujuan untuk meningkatkan kondisi kehidupan rakyat Italia.
Namun, popularitas Mussolini mulai menurun ketika Italia terlibat dalam Perang Dunia II. Keputusannya untuk mengikuti Adolf Hitler dalam Perang Dunia II membawa bencana bagi Italia. Pasukan Italia mengalami kekalahan yang memalukan di medan pertempuran, dan kebijakan rasialnya yang brutal terhadap orang Yahudi mendapat kecaman di seluruh dunia.
Pada tahun 1943, kejatuhan Mussolini semakin dekat ketika sekutu Italia, terutama Amerika Serikat dan Britania Raya, menyerang Italia. Raja Victor Emmanuel III menggulingkan Mussolini dan menangkapnya. Namun, Mussolini kemudian dibebaskan oleh pasukan Jerman yang menduduki Italia. Di bawah pengawasan Jerman, Mussolini memimpin Republik Sosial Italia yang boneka di Utara Italia.
Namun, keberuntungan Mussolini berakhir ketika Sekutu berhasil merebut Italia dari Jerman. Pada 28 April 1945, Mussolini ditangkap oleh pemberontak Italia dan dieksekusi oleh para partisan di Milan. Jenazahnya diekspose di Piazzale Loreto, Milan, sebagai peringatan bagi dunia atas kekejaman rezimnya.
Meskipun akhir hidupnya tragis, warisan Mussolini tetap kontroversial. Bagi beberapa orang, ia adalah sosok yang dihormati karena telah memulihkan kebanggaan nasional Italia dan memperkenalkan berbagai reformasi sosial. Namun, bagi yang lain, ia adalah simbol dari otoritarianisme yang kejam dan penindasan politik yang tidak bisa dimaafkan.
Kisah Benito Mussolini mengingatkan akan bahaya fanatisme politik dan ambisi berlebihan. Sebagai pemimpin yang kuat dan karismatik, ia berhasil memperoleh kekuasaan, tetapi akhirnya terjatuh dalam kehancuran akibat keputusannya yang kontroversial. Sejarah Mussolini menegaskan pentingnya menghindari penyimpangan kekuasaan dan memastikan bahwa pemimpin mempertahankan nilai-nilai demokrasi dan keadilan dalam tindakannya.
