“Jadi, dinamika stabilitas politik yang cukup terlihat adalah bagaimana negara lain memanfaatkan peluang ini untuk menempati kekosongan itu,” ujar Agas. Ia menambahkan bahwa pergeseran kekuatan ini dapat berdampak pada keseimbangan geopolitik global.
Dampak kebijakan ini juga terasa dalam sistem kesehatan global, meskipun tidak terlalu signifikan. Menurut Agas, sistem kesehatan global tidak hanya bergantung pada negara, tetapi juga pada jaringan pakar, peneliti, dan organisasi non-pemerintah (NGO).
“Sebetulnya, negara tidak begitu berdampak dalam masalah sistem kesehatan global. Karena kita melihat di era COVID pun keluarnya AS dari WHO hanya membuat beberapa masalah terkait teknis. Tapi secara umum tanpa AS sistem kesehatan global sudah bisa berjalan,” imbuhnya.
Namun, keputusan ini lebih berdampak pada pemutusan bantuan luar negeri (foreign aid) yang selama ini diberikan AS. Negara-negara berkembang yang bergantung pada dana dari USAID dan lembaga donor lainnya kini menghadapi tantangan besar dalam pendanaan program kesehatan dan pembangunan.
Bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, keputusan ini tidak menjadi ancaman serius. “Sejak era Perang Dingin, kita sudah terbiasa hidup di antara dua kekuatan besar. Jadi, kita tahu caranya untuk bertahan. Masalah terbesarnya bukan ke negara-negara berkembang, tapi negara-negara aliansi AS yang selama ini hidup terbantu, mendapatkan dukungan AS sehingga mereka harus bisa beradaptasi,” tegas Agas.
Keputusan Trump ini menandai perubahan besar dalam kebijakan luar negeri AS. Dengan sikap yang semakin transaksional, AS menuntut keuntungan lebih nyata dari setiap kerja sama internasional yang dilakukan.
Secara keseluruhan, keluarnya AS dari WHO memberikan tantangan dan peluang baru bagi negara-negara lain. Kebijakan ini juga menjadi dorongan bagi banyak negara untuk lebih mandiri dalam menghadapi tantangan global di masa depan.
