Selain itu, Pangeran Diponegoro juga mampu memanfaatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan rakyat jelata, ulama, dan bangsawan Jawa lainnya. Solidaritas di antara mereka memperkuat perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun lamanya, mengakibatkan banyak korban jiwa di kedua belah pihak. Namun, pada tahun 1830, pasukan Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro setelah melakukan perundingan yang licik. Beliau kemudian diasingkan ke Makassar, Hindia Belanda (sekarang: Sulawesi Selatan), di mana beliau meninggal dunia pada tanggal 8 Januari 1855.
Meskipun perjuangannya tidak berhasil mengusir Belanda secara langsung, namun semangat dan tekadnya untuk melawan penindasan telah menorehkan jejak penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan. Pangeran Diponegoro dianggap sebagai simbol perlawanan dan semangat kebangsaan yang tidak pernah padam.
Warisan perjuangan Pangeran Diponegoro terus diabadikan melalui berbagai cara, termasuk dalam seni, budaya, dan pendidikan. Monumen, patung, dan nama jalan yang mengingatkan pada beliau tersebar di berbagai penjuru Indonesia.
