“Nah, ketika bau itu menyengat karena masih menyisakan residu, seharusnya residunya di buang ke TPA jangan sampai menyisakan residu agar tidak bau. Kemudia ini menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Bangkalan, katanya kalau sampah dikelola itu tidak bau ternyata masih bau, bagaimana masyarakat bisa mempercai itu,” tukasnya.
Tak hanya itu, Wabup Fauzan juga menilai bahwa pengelolaan TPST hingga saat ini belum maksimal. Sebab, dari target yang seharusnya per-hari jikan memgacu pada kapsitas alatnya Bisa mengelola hingga 100 ton, namun targetnya DLH hanya 60 ton itu pun belum bisa mencapai target.
Setelah ditelusuri lebih dalam, lanjut Wabup Fauzan, ternyata pengelolaan sampah di Bangkalan yang mampu dikelola TPST Bangkalan hanya 30 ton. Nah, hal itu menjadi persoalan, sedangkan sampah di Bangkalan semakin membludak.
“Kalau menurut keterangan DLH ya mas, TPST yang ada saat ini hanya bisa mengelola sampah 60 ton. Namun, realita di lapangan hanya bisa muat 30 ton. Nah, persoalan sampah di Bangkalan masih harus lebih intensif dilakukan perbaikan. Oleh karena itu, TPST di Bangkalan tidak bisa menyelesaikan persoalan sampah, justru mendatangkan masalah baru,” tegas Fauzan.
Ia juga mempertanyakan sisa sampah setiap harinya bisa puluhan ton yang tidak bisa dikelola. “Jika di target 60 ton per-hari, berarti sisa sampah yang tidak dikelola di Bangkalan setiap harinya mencapai 30 ton, pertanyaannya, kemana sisa sampah itu, kan begitu ya,” katanya mempertanyakan.
