Anggaran Bagi Nelayan Sumenep Masih Minim

Seorang kuli angkut ikan saat membawa hasil tangkapan ikan di pesisir Ambunten Tengah Kabupaten Sumenep. (Sumber Foto: Istimewa)

Sumenep – Kebupaten Sumenep dikenal dengan salah satu Kabupaten yang memiliki banyak pulau. Terdapat 126 pulau, pulau berpenghuni di Kabupaten Sumenep hanya 48 pulau atau 38%, sedangkan pulau yang tidak berpenghuni sebanyak 78 pulau atau 62%.

Dari 126 kepulauan tersebut, Kabupaten Sumenep yang terletak di ujung timur pulau Madura memiliki luas wilayah perairan ± 50.000 KM2. Sehingga, mayoritas penduduk aktivitas ekonominya dari lautan alias menjadi nelayan.

Di tengah mayoritas penduduk Sumenep yang menjadi nelayan, Dinas Perikanan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur mengungkapkan anggaran untuk nelayan Sumenep tahun 2021 sangat minim.

Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Perikanan Tangkap, Edie Ferrydianto mengatakan telah memberikan hibah sarana dan prasarana bagi nelayan menghabiskan dana sebanyak 3 miliar.

Diketahui, dana tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Murni dan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK). Kemudian diberikan kepada 120 kelompok nelayan, yang tersebar di 19 Kecamatan.

“Kecil sih sebenarnya untuk Sumenep, anggaran kita dengan kabupaten Sampang lebih besar Sampang. Padahal kita jangkauannya luas ke kepulauan,” katanya kepada jurnalis madurapers.com, Kamis (23/12/21).

BACA JUGA:  Si Jago Merah Melumat Habis Rumah Kayu Jati di Pulau Sapudi Sumenep

Program hibah kepada 120 kelompok nelayan tersebut, berupa sarana dan prasarana untuk menunjang dan meningkatkan perolehan hasil tangkapan.

“Ada pancing ulur, jaring tambak, jaring udang, ada bubu rajungan, ada mesin perahu, dan ada berupa janset. Kami diberikan dengan gratis tanpa biaya sepeserpun,” ungkapnya.

Menurutnya, hibah tersebut setiap kelompok tidak sama. Artinya menyesuaikan dengan proposal yang telah diajukan oleh kelompok nelayan yang terdaftar di Dinas Perikanan setempat.

“Kemudian kita survei ke lapangan. Jika nelayan benar benar membutuhkan kita berikan,” tegasnya.

Meskipun anggaran hibah dinilai kecil, tetapi pembinaan dan pendamping kepada masyarakat tetap dilakukan kepada 19 kecamatan yang memiliki pesisir.

“Tetap kita pantau, khawatir kelompok yang diberikan bantuan dijual, jadi kita tetap monev mereka. Cuman karena adanya pendemi kita sudah jarang. Bahkan pendemi juga membatasi aktivitas kita para nelayan,” paparnya.

Edie juga menilai bahwa, minimnya anggaran tahun 2021 disebabkan karena pandemi Covid-19. Di mana pemerintah melalukan refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19.

Bahkan, pihaknya optimistis tahun 2022 akan membuat sentra ataupun kawasan rajungan di Desa Tanjung Kecamatan Saronggi.

BACA JUGA:  Pengguna Narkotika Jenis Sabu-Sabu Ditangkap Satresnarkoba Sumenep

“Kedepannya, pruduk rajungan ini bisa menjadi ikon kota Sumenep, jadi wisatawan yang datang ke Sumenep bisa bawa oleh-oleh dari rajungan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan