Opini  

Feminisme, Kapitalis Vs Kapitalis

Madurapers
Foto: Istimewa

Akibatnya, ribuan perempuan dipecat dari posisi pekerjaan yang mapan dan mengembalikan mereka pada pekerjaan rumah tangga, mengurus anak dan suami. Itulah dunia kecil perempuan menurut Adolf Hitler.

Nahasnya komitmen Hitler tersebut gugur setelah Jerman mengalami krisis pada tahun 1939, yang menghabiskan banyak korban laki-laki terutama pada Perang Dunia Pertama 1914 yang mengakibatkan terbatasnya tenaga kerja laki-laki. Dari peritiswa, NAZI mencabut kebijakan terkait perempuan dengan dunia kecilnya dan menarik perempuan-perempuan untuk bekerja lagi di bidang industri berat dan persenjataan.

Rekrutmen pekerja perempuan ini tidak tanggung-tanggung bahkan persentasenya lebih tinggi dari Inggris dan Amerika Serikat terutama pada peristiwa Perang Dunia Kedua. Akhirnya gerakan perempuan di Jerman kembali muncul saat posisi mereka kembali berpartisipasi di lingkup sosial.

Gerakan perempuan Jerman dimulai pada tahun 1884 berawal dari kegelisahan perempuan yang diperlakukan secara tidak adil. Buruh-buruh perempuan pada masa itu tidak mendapatkan gaji sebagaimana laki-laki. Gerakan ini dilakukan sebagai bentuk protes pada eksploitasi berlebihan pada perempuan. Di mana perempuan dianggap lebih rendah dari pada laki-laki.

Kapitalisme hadir setelah ada masa aufklarung pada 1695, di mana manusia diberi kebebasan untuk mandiri yang diawali dengan paham libertarianisme atau liberalisme. Peristiwa aufklarung di Jerman ini menuntut manusia untuk optimis dengan kemampuanya untuk menciptakan kemajuan yang dapat memberikan cahaya baru.

Dari peristiwa inilah manusia berdiri pada posisinya sendiri sesuai dengan kamampuanya. Begitu pun dengan perempuan, juga ikut mengambil bagian dalam mengekspresikan dirinya di lingkungan sosial. Akan tetapi, kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi, di mana buruh perempuan dibayar rendah bahkan ada yang hanya dipekerjakan tanpa dibayar. Dari situlah lahir gerakan perempuan untuk bersuara mengenai keadilan terhadap perempuan yang kemudian disebut gerakan feminisme.

Berbicara gerakan feminisme tidak jauh-jauh banget dari pemikiran Marxis mengenai teori kritisnya pada paham kapitalis. Sosialis atau biasa disebut Marxis dibawa oleh Karl Marx disebabkan karena adanya lingkungan sosial di Jerman yang tidak sehat antara kaum buruh dengan kaum kapitalis. Sehingga Karl Marx hadir dengan kritikannya pada kapitalis-kapitalis Jerman yang hanya peduli pada kepentinganya, tanpa memerhatikan nasib buruh yang diperlakukan tidak manusiawi.

Sebelum, Marxis hadir sebagai anti tesis. Ada dua perspektif besar yang saling adu argumen dan hanya fokus pada negara dan ekonomi, yakni realis dan liberalis. Dua perspektif besar ini hanya dimiliki oleh mereka yang notabennya berekonomi mapan, maka kemudian lahirlah Marxis sebagai anti tesis mambawa isu sosial.

Dari Marxis yang mengkritik ekonomi mapan, maka lahir kemudian perspektif-perspektif yang lain seperti feminis, nasionalis, dan lain-lain. Akan tetapi, perspektif-perspektif kecil tersebut masih belum bisa menyaingi dua perspektif besar yang sudah mapan, bahkan sosialis sendiri jatuh pada berakhirnya perang dingin. Sementara nasionalis sudah abu-abu setelah munculnya globalisasi, batas-batas negara dan budaya sudah kabur. Lalu bagaimana dengan feminis?

 

Ma’iyah Arrosyid, Tampojung Tengah, Waru, Pamekasan. Mahasiswi semester akhir Universitas Respati Yogyakarta. Prodi S1 Hubungan Internasional. Mantan ketua Himpunan Muslimah (HIMMAH) FKMSB wilayah Yogyakarta.