Korean Wave Berhasil Menciptakan Budaya Baru di Dunia Internasional melalui Diplomasi Kebudayaan

Madurapers
Ma’iyah Arrosyid (Foto: Istimewa)

Kebijakan ini dilakukan setalah krisis 1998 di saat kelompok konglomerat banyak yang mengalami kebangkrutan, kemudian mereka menggalakkan kampanye konsumsi film Korea dan mengatur ketat impor film dari luar negeri.

Berawal dari krisis 1998, presiden Korea Selatan kedelapan, Kim Dae-Jung mulai giat menghidupkan perfilman Korea Selatan dengan kebijakan dana promosi film, dana promosi kebudayaan, dan mempromosikan investasi pribadi industri perfilman melalui pajak insentif.

Sejak saat itu, objek perfilman sudah bebas tema apa saja, termasuk mengenai tema-tema film yang berlatar tentang politik. Sebelumnya, industri film Korea sangat kaku, tema-tema politik tidak diperkanankan dan cenderung melakuakn sensor pada film yang dianggap sensitif. Setelah adanya krisis, kebebasan dalam tayangan film Korea menjadi semakin flaksible, hal itu berhasil menggaet banyak peminat terhadap industri film Korea Selatan.

Bagi Korea Selatan, Hallyu sebagai sarana promosi atau propaganda. Sebagai media yang sangat diminati, Hallyu menjadi tempat Korea Selatan mempromosikan kebudayaannya, baik di bidang pariwisata, makanan, teknologi, produk-produk kecantikan, fashion bahkan gaya hidup. Promosi melalui industri perfilman atau industri musik lebih efektif dan langsung tepat sasaran yakni masyarakat dengan menikmati hiburan yang diproduksi oleh Korea Selatan.

Puncak keberhasilan Hallyu ditandai dengan banyaknya masyarakat yang minat terhadap produk-produk Korea Selatan. Halyu berhasil membuat masyarakat memiliki empati terhadap budaya yang dipromosikan oleh Korea Selatan.

Empati yang dibangun oleh Hallyu membuat masyarakat ingin memiliki gaya yang sama dengan apa yang masyarakat saksikan, contoh kecil, mengenai oprasi plastik, menikmati Korean Food, bahkan tidak jarang masyarakat ingin tiba di Korsel hanya menyaksikan sendiri indahnya wisata Korea Selatan.

Adanya Hallyu atau Korean Weve menciptakan kebudyaan baru di negara-negara yang mengimpor industri film dari Korsel. Masyarakat yang memiliki simpati yang tinggi akan membuat hal serupa layaknya musik atau film ala-ala Korea Selatan. Di Indonesia sendiri sudah ada grup musik yang menyerupai grup musik Korea Selatan yaitu SMASH dan grup girl band Cherrybelle.

Korean Wave cukup memberi kuntungan bagi Korea Selatan. Salah satu di antaranya adalah BTS. VOA mencatat grup BTS yang merupakan bagian dari K-Pop telah berhasil menyumbangkan sebanyak RP 71 Triliun pada pendapatan Korsel.

Oleh Karenanya, tidak mengherankan BTS sudah tiga kali ditunjuk menjadi Duta Prisiden atau Duta Diplomasi Kebudayaan di sidang umum PBB pada tahun 2018, 2020 dan 2021. Mereka yang notabenanya anak muda mengangkat isu-isu tentang kepemudaan saat mendapat bagian berpidato di depan pemimpin negara-negara di sidang PBB.

 

Ma’iyah Arrosyid, Tampojung Tengah, Waru, Pamekasan. Mahasiswi semester akhir Universitas Respati Yogyakarta. Prodi S1 Hubungan Internasional. Mantan ketua Himpunan Muslimah (HIMMAH) FKMSB wilayah Yogyakarta.